IKN Nusantara. DOK Instagram
IKN Nusantara. DOK Instagram

IKN Berpotensi Krisis Air Bersih, Pakar Unair Bagikan Cara Mencegahnya

Pendidikan Air Bersih UNAIR IKN Nusantara
Renatha Swasty • 25 April 2022 14:09
Jakarta: Kawasan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur berpotensi mengalami krisis air bersih, utamanya air kelas 1 dan 2. Penilaian itu berdasarkan kondisi geografis di daerah IKN yang mayoritas memiliki tanah gambut.
 
Selain itu, banyak industri ekstraktif. Hal itu mengakibatkan sumber air tanah tidak layak dikonsumsi atau digunakan sehari-hari.
 
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) Nurina Fitriani menilai dengan pengelolaan yang tepat, potensi IKN mengalami krisis air bersih sangat rendah. Pasalnya, sumber air bersih tidak hanya didapatkan melalui air tanah saja melainkan bisa diperoleh dari pengolahan air permukaan, air hujan, bahkan air laut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nurina menjelaskan daerah IKN memiliki curah hujan tahunan yang tergolong sangat tinggi yakni 2.223 milimeter dan air permukaan baik itu sungai, embung, maupun waduk yang cukup banyak. Hal itu merupakan potensi sumber air yang bisa digunakan untuk memenuhi ketersediaan air bersih apabila dikelola dengan baik.
 
Nurina menyebut pengembangan IKN mesti tetap berpegang teguh pada tiga konsep yang sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022. Yakni kota hutan, kota spons, dan kota cerdas.
 
“Karena solusi permasalahan air ini ada pada dua dari tiga konsep pengembangan IKN, yakni kota hutan dan kota spons,” kata dosen Departemen Biologi FST Unair tersebut dikutip dari unair.ac.id, Senin, 25 April 2022.
 
Nurina menjelaskan cadangan air dalam tanah tidak terlepas dari adanya hutan. Hal itu terjadi karena hutan merupakan regulator dalam sistem hidrologi.
 
Hutan dapat menyimpan dan menyaring serta membersihkan air untuk disimpan dalam akuifer. “Oleh karena itu, pembangunan yang merujuk pada konsep kota hutan adalah salah satu upaya untuk menjamin ketersediaan air bersih di IKN nantinya,” tutur dia.
 
Dia mengusulkan wilayah hutan yang saat ini mendominasi hampir 80 persen dari wilayah IKN dibiarkan tetap alami. Hal itu untuk mendukung ketersediaan air di Wilayah IKN.
 
“Biarkan tetap alami dan terjaga, jangan dibabat kemudian dialihfungsikan untuk hutan sawit,” tutur dia.
 
Nurina menuturkan konsep kota spons sangat cocok diterapkan di wilayah IKN yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Dia memaparkan kota spons merupakan model konstruksi perkotaan guna menjaga air hujan agar tidak langsung bermuara ke laut.
 
“Yakni melalui pembangunan embung dan sumur resapan air,” ujar dia.
 
Nurina menuturkan dalam kota spons juga dilakukan rainwater harvesting atau mengumpulkan dan menyimpan air hujan dalam skala rumah tangga. Hal itu memungkinkan karena sudah diaplikasikan di beberapa negara, seperti China, Spanyol, Belgia, dan India.
 
Nantinya, air hujan yang telah dikumpulkan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari cukup dengan metode filtrasi sederhana. “Filter dapat dibuat dari bahan yang bisa dijumpai di rumah seperti genteng, pasir, arang, kerikil, ijuk dan batu-batuan dan air hasil penyaringan sudah bisa langsung digunakan untuk keperluan sehari-hari namun tidak untuk diminum secara langsung,” kata Nurina.
 
Baca: Tak Sekadar Pindah ke IKN Nusantara, ASN Diminta Pahami Hal Ini
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif