Ilustrasi. Foto: MI/Bary Fathahillah
Ilustrasi. Foto: MI/Bary Fathahillah

JPPI: Sekolah Mengalami Darurat Kekerasan

Pendidikan sekolah Kualitas Pendidikan Kualitas Guru
Arga sumantri • 24 Oktober 2020 15:07
Jakarta: Koordinator Jaringa Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji mengatakan, kondisi sekolah saat ini sudah berstatus darurat kekerasan. Baik itu secara fisik, maupun ideologi.
 
"Sekolah ini sudah darurat kekerasan. Artinya sekolah sudah tidak menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Ada paparan intoleransi, radikalisme, paparan kekerasan fisik dan nonfisik," kata Ubaid dalam diskusi daring Polemik Trijaya, Sabtu, 24 Oktober 2020.
 
Ia mengatakan, sejumlah survei lembaga internasional mencatat Indonesia memiliki skor yang rendah terkai keamanan dan kenyamanan sekolah bagi anak. Sebab, kekerasan sudah menjadi hal yang seperti lazim terjadi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Baik itu pelakunya adalah murid, guru, bahkan orang tua murid. Kekerasan zaman lama seperti tawuran juga masih terjadi" ucap Ubaid.
 
Baca:Saatnya Pemuda Berperan, Bukan Baperan
 
Ubaid mengaku tak heran dengan fenomena pelajar tingkat menengah ikut turun demonstrasi dan melakukan kekerasan. Ia mengatakan, kondisi ini akibat tersumbatnya saluran berpikir dan sekolah juga menjadi tempat yang tak nyaman untuk belajar.
 
"Banyak sumbatan. Sekolah ikut menjadi masalah, tapi kita semua seolah membiarkan," ujarnya.
 
Ubaid mengakui pemerintah sudah melakukan sejumlah upaya penanganan kekerasan di sekolah. Namun, dianggap belum maksimal.
 
Ia menambahkan, kekerasan di sekolah, baik secara fisik maupun ideologi bakal berdampak besar. Secara kualitatif misalnya, kualitas pendidikan Indonesia dinilai jalan di tempat, terlebih dihantam pandemi virus korona (covid-19).
 
"Bisa dibandingkan dengan kualitas pendidikan negara lain. ASEAN saja, PISA kita berada di level bawah, tertinggal dari Singapura, Thailand. Kita sejajar dengan Kamboja, Laos," terangnya.
 
Ia mengatakan, tingkat literasi Indonesia juga hanya peringkat 61 dari 62 negara OECD. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata dia, mencatat 97 persen warga Indonesia sudah bisa membaca, tapi diteliti lebih jauh, mereka tak mengerti apa yang dibaca.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif