Kampus UGM. Dokumentasi Humas UGM
Kampus UGM. Dokumentasi Humas UGM

UGM Desak Pemerintah Ratifikasi Larangan Senjata Nuklir

Pendidikan nuklir Pendidikan Tinggi
Arga sumantri • 07 Agustus 2020 11:27
Yogyakarta: Pemerhati hubungan internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhadi Sugiono mengatakan, nuklir jadi satu-satunya senjata pemusnah massal yang belum dilarang traktat internasional. Sementara, senjata pemusnah massal lain seperti senjata biologis dan kimia sudah dilarang sejak puluhan tahun lalu.
 
"Senjata nuklir masih menjadi senjata pemusnah massal yang belum sepenuhnya disepakati dilarang," kata Muhadi melalui keterangan tertulis, Jumat, 7 Agustus 2020.
 
Muhadi menyebut, saat ini senjata nuklir yang ada di dunia berjumlah 14.000 hulu ledak dan dikuasai oleh sembilan negara, yakni Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, Tiongkok, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara. Masih banyak senjata ini yang berada dalam status siaga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Yang artinya senjata tersebut dapat diluncurkan dalam hitungan jam, jika tidak menit," paparnya.
 
Menurut Muhadi, sejatinya lebih dari 120 negara mengadopsi sebuah traktat baru, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah melarang senjata nuklir secara total, pada 7 Juli 2017. The Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (TPNW) diadopsi dengan pemungutan suara, dengan hasil 122 negara menyetujui, satu abstain, dan satu menolak. Adopsi traktat ini memberikan masyarakat global sebuah kesempatan bersejarah untuk melarang senjata nuklir dan membuka jalan bagi penghapusannya secara total.
 
Baca:19 Perguruan Tinggi Indonesia Masuk 200 Terbaik Asia
 
Ia mengatakan, agar traktat ini dapat berlaku diperlukan setidaknya 50 ratifikasi dari negara-negara. Saat ini, sudah ada lebih dari 40 negara yang telah meratifikasinya, dan 82 negara yang telah menandatanganinya. Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah dalam bulan ini jika memperhitungkan kemajuan-kemajuan yang terjadi di beberapa negara.
 
Namun sayangnya, kata dia, pemerintah Indonesia menandatangani traktat ini pada September 2017, tetapi hingga saat ini belum meratifikasinya. Padahal, di kawasan Asia Tenggara, sudah ada dua negara yang meratifikasi TPNW, yakni Thailand dan Vietnam.
 
Dalam momentum peringatan 75 tahun tragedi Hiroshima dan Nagasaki, The Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada mendukung dan mendorong pemerintah Indonesia untuk meratifikasi sesegera mungkin.
 
"Kita mendorong pemerintah segera meratifikasinya," tegas Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM ini.
 
Menurutnya, apabila seluruh negara sepakat melakukan ratifikasi dan mengakui berlakunya traktat ini, merupakan langkah sangat penting dalam mencapai cita-cita dunia tanpa senjata nuklir. Sebab, kini multilateralisme kian terancam dan banyak negara-negara pemilik senjata nuklir yang dipimpin oleh figur yang impulsif dan tidak bertanggung jawab.
 
"Saya kira risiko besar penggunaan senjata nuklir, baik yang disengaja maupun akibat kecelakaan meningkat secara signifikan," ujarnya.
 
Guna mempromosikan dukungan IIS terhadap TPNW ini, dan memperingati peristiwa di Hiroshima dan Nagasaki 75 tahun yang lalu, IIS UGM menyelenggarakan rangkaian kegiatan dengan judul '75 years too long: end nuclear weapons now!'. Kegiatan ini meliputi kampanye media sosial, pameran foto virtual, webinar publik, dan sebuah episode podcast. Kegiatan-kegiatan ini dimaksudkan untuk mengangkat diskusi publik tentang bahaya senjata nuklir dan perlunya mendorong pelarangan senjata nuklir.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif