Kampus UGM. Foto:  UGM/Humas.
Kampus UGM. Foto: UGM/Humas.

Fenomena Mudah Marah Saat Pendemi, Psikolog UGM: Masyarakat Kecewa

Citra Larasati • 20 Mei 2021 17:01
Jakarta:  Dalam beberapa waktu terakhir viral di media sosial video pemudik marah-marah saat diminta putar balik oleh petugas di titik penyekatan. Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., mengatakan banyak warga yang marah saat terjaring razia di pos penyekatan karena saat ini mereka tengah berada pada fase kekecewaan.
 
“Kondisi ini secara umum disebut fase kekecewaan dalam respons psikologis bencana. Penuh dengan kekecewaan dan tanda tanya kapan pandemi akan berakhir,” katanya dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 20 Mei 2021.
 
Dosen sekaligus Peneliti Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM ini menyebutkan, masyarakat sangat sensitif saat berada di masa ini. Kelelahan akibat pandemi menjadikan manusia tidak rasional.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ditambah adanya pembatasan mobilitas termasuk larangan mudik Lebaran dan penyekatan di setiap perbatasan wilayah menjadikan ruang gerak manusia sebagai makhluk sosial untuk terhubung secara langsung semakin terbatas.  Ia menuturkan, bagi sebagian orang bisa beradaptasi melakukan komunikasi dan terhubung secara digital, tetapi ada banyak orang yang tidak bisa melakukan atau beradaptasi dengan cara tersebut.
 
Misalnya ayah ibu di kampung, entitas sosial di kampung halaman. “Sudah dua kali lebaran tidak bisa mudik, sementara perasaan ingin bertemu keluarga dengan mudik Lebaran sangat kuat. Kondisi ini bisa dipahami jika menjadikan masyarakat mudah marah, karena ini menyakitkan bagi mereka. Psikologis masyarakat sudah lelah terhadap pandemi dan hasrat untuk terhubung menjadi sangat besar,” paparnya.
 
Baca juga:  Fenomena Pemudik Marah-marah, Ini Penjelasan Psikolog Unpad
 
Diana menjelaskan, terdapat beberapa fase dalam respons psikologi bencana. Pertama, predisaster yaitu situasi normal belum terjadi bencana.
 
Lalu, impact/inventory yakni saat bencana terjadi mosi yang muncul adalah kebingungan, ketakutan, kehilangan, kemudian merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu yang lebih. Berikutnya, fase heroik di mana orang merasa terpanggil melakukan aksi heroik untuk membantu dan menyelamatkan orang lain.
 
Selanjutnya fase honeymoon, biasanya terjadi sekitar tiga bulan awal bencana dengan harapan tinggi untuk segera pulih dari bencana.
 
“Lalu, fase disillusionment, setelah bencana berlangsung beberapa saat orang merasakan kekecewaan karena pandemi yang tidak selesai-selesai dan merasa kecewa akan kondisi yang ada,” terangnya.
 
Fase kekecewaan ini, lanjutnya, akan mudah mengalami naik turun. Kondisi ini bisa terjadi jika ada situasi pemicu, salah satunya seperti larangan tidak boleh mudik.
 
Lalu, fase terakhir adalah rekonstruksi. Ia pun berharap masyarakat Indonesia bisa segera memasuki fase ini dengan situasi pandemi yang terkendali.
 
Diana mengungkapkan, untuk mengatasi kekecewaan di masyarakat akibat pandemi bukanlah hal yang mudah. Penyelesaian tidak cukup dilakukan pada level mikro dengan melakukan manajemen emosi melalui peningkatan spiritualitas dan literasi terkait kondisi pandemi ke masyarakat.
 
Namun, juga di tingkat makro melalui penetapan kebijakan pemerintah. “Marah karena secara ekonomi kesulitan, tapi tidak mudah bagi Indonesia yang merupakan negara besar memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini memang sulit, pada akhirnya kembali ke keluarga dan individu dan semangat yang harus dikedepankan saat ini adalah gotong royong untuk saling meringankan beban,” jelasnya.

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif