Radar pasif untuk mendeteksi masuknya pesawat ilegal ke Indonesia buatan ITB. Foto: ITB/Humas
Radar pasif untuk mendeteksi masuknya pesawat ilegal ke Indonesia buatan ITB. Foto: ITB/Humas

ITB Ciptakan Radar Pendeteksi Pesawat Ilegal Masuk Indonesia

Pendidikan beasiswa osc Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 14 November 2019 12:21
Jakarta: Institut Teknologi Bandung (ITB) terus berupaya melahirkan teknologi baru yang sejalan dengan kebutuhan saat ini. Salah satu yang tengah dikembangkan adalah teknologi radar pasif untuk mendeteksi pesawat.
 
Teknologi radar pasif ini merupakan hasil karya dari Kelompok Keahlian (KK) Teknik Telekomunikasi di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI ITB) yang bekerja sama dengan PT. LAPI ITB dan Balitbang Kementerian Pertahanan. Penelitian ini dipimpin oleh Joko Suryana, dengan tujuan mendeteksi adanya pesawat asing yang melewati batas negara secara ilegal.
 
Waktu yang dibutuhkan untuk membuat sistem radar pendeteksi pesawat seperti ini tentu saja tidak singkat. Proses pembuatan sistem dimulai sejak 2017 sampai 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rencananya di akhir tahun 2019 akan ada demo fungsi sistem radar pasif yang telah dikembangkan. Total waktu selama empat tahun tersebut digunakan untuk pengujian sistem dan apabila telah berjalan dengan sempurna, maka di 2020 radar tersebut sudah bisa digunakan.
 
"Kesulitannya mungkin ada pada beberapa perangkat COTS yang harus dibeli dari luar negeri, karena belum tersedia di Indonesia. Kemudian perangkat tersebut masih harus dikembangkan lagi di ITB, sebab apabila membeli langsung yang siap digunakan harganya sangat mahal," kata dosen di STEI ITB, Izzudin dikutip dari laman ITB, Kamis, 14 November 2019.
 
Namun ada bagian yang bisa tim kembangkan sendiri, misalnya antena. Tim dalam proses pembuatan radar pasif tidak langsung membeli antena, namun tentunya memerlukan tahapan desain dan tes untuk menguji kemampuannya.
 
“Mungkin itu salah satu faktor kenapa waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem ini cukup lama,” ujar Izzudin.
 
Hal ini harus memacu mahasiswa untuk terus berkarya. “Menurut saya justru dengan melihat keadaan seperti ini seharusnya dapat memicu mahasiswa dan akademisi di Indonesia untuk terus berkarya, hingga akhirnya tidak perlu membeli perangkat dari luar negeri. Semua perangkat bisa didapatkan di Indonesia dan asli buatan Indonesia,” tutup Izzuddin.
 
Radar sendiri merupakan singkatan dari Radio Detection and Ranging yang dibagi menjadi dua jenis, yaitu radar aktif dan radar pasif. Perbedaan dari kedua radar tersebut terletak pada cara mendeteksi target.
 
Radar aktif dapat memancarkan sinyal sendiri sedangkan radar pasif hanya berperan sebagai receiver atau penerima sinyal. Sehubungan dengan hal tersebut, desain radar dibuat dengan konsep transportable,sehingga bisa dibawa sampai ke wilayah terpencil tanpa perlu tambahan mobil pengangkut. Saat ini sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum dikomersialkan, namun akan diuji coba bersama dengan Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional).
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif