‘Bincang Seru Mahfud’ di kampus UAI Jakarta. Medcom.id/Intan Yunelia.
‘Bincang Seru Mahfud’ di kampus UAI Jakarta. Medcom.id/Intan Yunelia.

Rektor UAI Ajak Masyarakat Kembali Bersatu

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 12 Juli 2019 20:15
Jakarta: Rektor Universitas Al-azhar Indonesia, Asep Saefudin mengajak seluruh elemen masyarakat melupakan sekat polarisasi yang muncul antara pendukung kubu 01 (Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin) dan pasangan 02 (Prabowo Subianto-Sandiaga Uno) saat Pemilihan presiden (pilpres) beberapa waktu lalu. Masyarakat diimbau kembali ke nilai sila ketiga pancasila, yakni persatuan Indonesia.
 
“Yang tadinya berbeda pendapat dari 01 dan 02, serta ada beberapa segregasi begitu sudah mulai mengerucut ke satu titik yaitu '03' artinya persatuan Indonesia dan saya pikir ini wajar karena dalam hal pemilu,” kata Asep disaat ‘Bincang Seru Mahfud’ dengan tema Inspirasi, Kreasi dan Pancasila, di kampus Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta Selatan, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Ia melihat masyarakat mulai dewasa menyikapi hasil Pemilu. Bahkan generasi milenial juga antusias menyaksikan sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Ada yang kalah dan tidak puas, sudah dilakukan suatu proses yang saya anggap masyarakat biasa itu baik yaitu masuk ke MK. Dilihat di MK apakah saksi, tanya jawab dan anak-anak milenial juga melihat itu positif. Maka keluarlah putusan MK, itu sudah mulai bersatu,” terang Asep.
 
Baca:UAI Tandatangani Kerja Sama dengan Universitas di Taiwan
 
Sikap kedewasaan berpolitik perlu diteladani oleh para elite politiknya. Jangan sampai masyarakat yang sudah mulai melebur justru kembali dikompori dengan kelakuan para elite politiknya.
 
"Kebetulan saya sering bicara dengan masyarakat kecil, tadinya berbeda sekarang ini sudah mulai bersatu kembali dan mengatakan ya proses sudah selesai berjalan tapi tingkat elite mohon agar terus menyatukan bangsa dan negara,” papar Asep.
 
Sementara itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD menyebutkan, politik identitas dengan membawa-bawa nama agama tidak tepat. Karena di dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri terkandung semangat membela agama.
 
Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 45 berisi "Berkat rahmat Allah yang maha kuasa maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaan" dan Pancasila di alinea pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
 
“Karena rakyat Indonesia meyakini dan percaya akan adanya kuasa yang abadi dan maha segalanya, menentukan keberadaan kita. Baik Indonesia maupun kita sebagai manusia dan sebagai makhluk alam semesta itu diyakini tanpa kekuasan Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif