Pengamat pendidikan Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji . Foto:  Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Pengamat pendidikan Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji . Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Kualitas Buruk Pendidikan Indonesia Merata Dilihat dari Skor PISA

Pendidikan Kualitas Pendidikan PISA 2018
Muhammad Syahrul Ramadhan • 04 Desember 2019 15:17
Jakarta: Pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji, menyebut laporan Programme for International Assessment (PISA) 2018 merupakan bukti buruknya kualitas pendidikan sudah merata. Tak hanya di daerah-daerah yang minim akses pendidikan, namun hingga ke kota besar.
 
Hal tersebut terlihat dari menurunnya skor PISA Indonesia, meskipun oversampling studi PISA tidak hanya dilakukan di daerah-daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Untuk diketahui, sekolah-sekolah yang dipilih secara acak memasukkan dua kota besar yakni DKI Jakarta dan Yogyakarta untuk menjadi oversample penilaian PISA 2018.
 
Oversampling merupakan mekanisme untuk menyeimbangkan distribusi kelas dengan cara replikasi instance kelas minoritas secara acak. Berdasarkan nilai rerata PISA 2018, terjadi penurunan nilai tiga kompetensi utama siswa Indonesia yang diujikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penurunan terlihat pada kompetensi membaca, dari 397 poin pada 2015, menjadi 371 poin di 2018. Rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yakni 487. Dalam kompetensi matematika, nilai Indonesia menurun dari 386 poin di 2015 menjadi 379 poin di 2018 dari rata-rata OECD 489.
 
Begitu juga untuk kompetensi sains, dari 403 di 2015 menjadi 396 poin di 2018. Atau berada di bawah rata-rata OECD yang mencapai 489.
 
"Itu berarti kualitas pendidikan di Indonesia sudah merata, merata buruknya," sindir Indra saat ditemui di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.
 
Hasil tersebut membuat Indonesia berada di urutan 72 dari 77 negara OECD dalam penilaian PISA 2018. Sementara di antara negara Asia Tenggara, Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Filipina yang bercokol di posisi buncit, yakni peringkat 77. Thailand di peringkat ke-66, Brunei Darussalam di peringkat ke-59, dan Malaysia di peringkat ke-56.
 
Ia pun mendorong pemerintah, utamanya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh kebijakan pendidikan di Tanah Air. Mulai dari program, pelatihan guru, perekrutan guru, sampai dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
 
Begitu juga denganlegislatif, diminta lebih berani merombak isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). "Legislatif harus berani bikin Undang-undang Sisdiknas baru untuk masuk prolegnas, karena ini sudah parah. Hampir puluhan tahun anggaran ribuan triliun rupiah kita berhasil mempertahankan 'kebodohan' kita," ujarnya.
 
Selanjutnya, Indra juga mendorong perlu adanya cetak biru (blue print) pendidikan. Ini, kata Indra harus dilakukan karena Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa belum tercapai. Meskipun sudah dilakukan upaya untuk peningkatan akses pendidikan dengan anggaran yang tidak sedikit.
 
"Karena UUD tidak hanya bicara akses Pemerintah mencerdaskan bangsa. Akses itu bagian, tapi mencerdaskan kehidupan bangsa itu tujuan dan itu belum tercapai," tuturnya.
 
Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang tahun ini diikuti oleh 77 negara di seluruh dunia.
 
Setiap tiga tahun, murid-murid berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak, menempuh tes dalam mata pelajaran utama, yaitu membaca, matematika, dan sains. Tes ini bersifat diagnostik yang digunakan untuk memberikan informasi yang berguna untuk perbaikan sistem pendidikan. Indonesia telah berpartisipasi dalam studi PISA sejak 2000.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif