Direktur Lembaga Litbang Ristekdikti Kemal Prihatman. Medcom.id/Ilham Pratama.
Direktur Lembaga Litbang Ristekdikti Kemal Prihatman. Medcom.id/Ilham Pratama.

Kemenristek: Jumlah Peneliti Indonesia Masih Minim

Pendidikan penelitian
Ilham Pratama Putra • 03 Desember 2019 08:47
Jakarta: Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenristek) menyebut jumlah peneliti di Indonesia masih sedikit. Direktur Lembaga Litbang Ristekdikti Kemal Prihatman menyebut hal itu menjadi tantangan bagi lembaga penelitian.
 
"Jumlah peneliti. Secara kelembagaan, bagaimana mereka melakukan sinergisitas internal dulu. Jadi bagaimana memanajemen lembaga itu. Bukan berarti mereka tidak mampu, tapi tidak optimal," kata Kemal di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta, Senin 2 Desember 2019.
 
Lembaga penelitian harus mampu mengkoordinasikan seluruh potensi peneliti menjadi satu kesatuan. Kemal juga mengeluhkan anggaran yang tersebar di beberapa institusi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Lalu usangnya peralatan. Tetapi dengan program sinergisitas, saya berharap bisa ketahuan ada sesuatu yang bisa untuk kerja sama. Itu artinya open colaboration. Sinergisitas membuka kesempatan untuk akses pakar atau memperkuat output," jelas Kemal.
 
Kemenristek punya tugas besar menghadapi tantangan saat ini. Kementerian yang dipimpin Bambang Brodjonegoro itu ingin lembaga penelitian di Indonesia berstatus pusat unggulan iptek (PUI). Ada ratusan lembaga yang bakal dibina demi predikat itu.
 
"Nanti dibina. Kita lakukan pendekatan. Ini masih banyak. Total dari kementerian saja, pemerintah saja ada 370an. Belum termasuk perguruan tinggi, badan usaha. Kira-kira ada 700-an lah," jelas Kemal.
 
Pembinaan menyasar kapasitas lembaga dan kecepatan penelitian."Semua ada prosesnya. Kita berikan pendampingan. Hampir 400 pakar kita gunakan untuk pendampingan," tambah dia.
 
Kemenristek mengukuhkan 18 penelitian yang mendapatkan status PUI, di antaranya:
 
1. Pengelolaan tanah presisi, oleh Balai Penelitian Tanah.
2. Pertanahan perkebunan, oleh Balai Penelitian Tanah.
3. Buah tropika, oleh Balai Penelitian Tanah.
4. Perbenihan tanaman hutan, oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
5. Mitigasi bencana berbasis daerah aliran sungai, oleh KLHK.
6. Teknologi roket, oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
7. Layanan informasi dan prediksi cuaca antariksa, oleh LAPAN.
8. Pengelolaan ekosistem danau, oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
9. Energi baru dan terbarukan untuk daerah terpencil, oleh LIPI.
10. Kesehatan lingkungan, oleh LIPI.
11. Teknologi pengelolaan dan pemurnian mineral, oleh LIPI.
12. Bioteknologi peternakan sapi potong dan sapi perah, oleh LIPI.
13. Teknologi radar, oleh LIPI.
14. Penelitian dan pengembangam vektor dan zoonosis, Kementrian Kesehatan.
15. Budidaya ikan hias oleh, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).
16. Sistem prediksi kelautan, oleh KKP.
17. Pengelolaan perikanan perairan umu, oleh KKP.
18. Teknologi biometrik oleh, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
 

(DRI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif