Remaja Pascabencana Rentan Terganggu Kesehatan Jiwanya

Citra Larasati 12 Oktober 2018 16:50 WIB
Gempa Donggala
Remaja Pascabencana Rentan Terganggu Kesehatan Jiwanya
Suasana anak dan remaja di tenda pengungsian pascabencana, MI/Ramdani.
Jakarta:  Remaja usia 12-17 tahun yang pernah mengalami pristiwa bencana memiliki risiko tinggi mengalami masalah kesehatan jiwa.  Untuk itu diperlukan penanganan kejiwaan khusus pascabencana, agar trauma tersebut tidak terbawa hingga dewasa.

Psikiater Anak dan Remaja, Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa Universitas Indonesia (UI), Tjhin Wiguna mengatakan, bencana alam merupakan suatu peristiwa alami yang berdampak besar bagi kehidupan manusia.  Bencana dapat membuat perubahan dalam struktur lingkungan, baik perubahan struktur keluarga maupun sistem dukungan.


"Remaja menjadi salah satu pihak yang akan sangat merasakan dampak dari perubahan struktur lingkungan tersebut.  Salah satunya karena dalam usia ini adalah usia yang memasuki masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa," kata Tjhin, dalam Seminar Kesehatan Jiwa bertema "Mental Health Among Youth:  Menjalani Transisi Kehidupan di Masa Remaja untuk Mencapai Kehidupan yang Lebih Berkualitas" di UI Salemba, Jakarta, Jumat, 12 Oktober 2018.

Berdasarkan pengalaman Tjhin saat melakukan pendampingan anak dan remaja korban gempa dan tsunami di Aceh Utara 2005-2006, terlihat jelas bahwa bencana turut memberi perubahan dalam perkembangan kejiwaan mereka. "Mereka menghadapi problem emosi, prilaku, meski tidak signifikan, namun perbedaannya sangat terlihat jika dibandingkan dengan remaja yang tidak terdampak bencana," terang Tjhin.

Baca: Siswa di Sekolah Umum Lebih Rentan Bunuh Diri

Ia menegaskan, bahwa remaja yang terpapar bencana memiliki risiko lebih besar untuk mengalami masalah kesehatan jiwa.  "Apalagi kalau remaja tersebut tidak memiliki tingkat ketahanan jiwa yang baik," ungkap Tjhin.

Untuk itu, remaja terdampak bencana membutuhkan bantuan trauma healing dan psikososial.  "Bantuan psikologis yang membuat mereka merasa nyaman, dan merasa ada yang peduli.  Ini akan mengurai benang kusut yang dialaminya karena bencana," papar Tjhin.

Jika tidak segera mendapatkan bantuan psikologis, maka trauma itu bukan tidak mungkin terbawa sampai dewasa.  "Meski tidak pernah meneliti lebih mendalam, namun secara teoritik jika mereka depresi, putus asa, risiko untuk melakukan hal-hal seperti bunuh diri perlu diwaspadai," tutup Tjhin.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id