ANT/Risky Andrianto.
ANT/Risky Andrianto.

Tiga Peneliti LIPI Dikukuhkan sebagai Profesor Riset

Pendidikan Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 14 Desember 2018 16:38
Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengukuhkan tiga Profesor Riset baru. Ketiga peneliti yang dikukuhkan tersebut adalah Dr. Andria Agusta dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Eko Tri Sumarnadi Agustinus (Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI), dan Dr. Firman Noor (Pusat Penelitian Politik LIPI).
 
Tiga peneliti yang dikukuhkan sebagai profesor riset masing-masing berasal dari bidang keilmuan kimia bahan alam, pemrosesan mineral, serta politik dan pemerintahan Indonesia.
Dalam orasinya, Andria Agusta menyatakan pentingnya pengembangan jamur endofit untuk mendukung kemandirian antibiotika di Indonesia.
 
“Dengan kondisi alam yang ideal untuk tempat tumbuh dan berkembangnya mikroba, sampai saat ini belum satupun antibiotika yang secara resmi dihasilkan oleh mikroba yang berasal dari Indonesia. Bahkan sampai saat ini, Indonesia masih dihadapkan ketergantungan yang nyaris secara total terhadap bahan baku obat impor," jelas Andria dalam siaran persnya di Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Andria, peneliti perlu melihat, bahwa rakyat Indonesia membutuhkan bahan baku obat yang berasal dari sumber daya hayati Indonesia untuk menciptakan kemandirian. Pemerintah juga perlu memprioritaskan penelitian-penelitian dan alokasi dana penelitian untuk menemukan obat antiinfeksi.
 
"Tidak hanya antiinfeksi oleh bakteri patogen, akan tetapi juga antiinfeksi yang disebabkan oleh organisme lainnya, seperti malaria, tuberculosis ataupun infeksi yang disebabkan oleh virus.”
 
Sedangkan Eko Tri Sumarnadi Agustinus mengungkapkan, perlunya rekayasa benefisiasi mineral untuk mineral bukan logam dan batuan marginal. “Rekayasa benefisiasi bermanfaat untuk meningkatkan nilai tambah, terutama mineral bukan logam dan batuan marginal, termasuk di antaranya mineral ikutan produk pertambangan, material buangan atau limbah industri yang dipandang sudah tidak ada manfaatnya lagi,” ujar Eko.
 
Eko menjelaskan, rekayasa benefisiasi juga diharapkan dapat menghasilkan produk jadi yang dapat digunakan di berbagai bidang. “Misalnya untuk baju antipeluru, media tanaman, bantalan rel, sampai dinding beton geopolymer untuk partisi,” terang Eko.
 
Sementara Firman Noor mengungkapkan persoalan partai politik dalam kehidupan demokrasi di era reformasi. “Di awal reformasi harapan dan optimisme untuk mendapatkan kehidupan demokrasi yang lebih baik, dengan partai sebagai pilar utamanya terasa menguat. Namun ternyata peran partai hingga kini belum seutuhnya efektif,” ujar Firman.
 
Dirinya menjelaskan, hal tersebut disebabkan karena persoalan institusional, kultural, legal-formal, hingga struktural. Firman mengungkapkan perlu serius membangun partai dan melembagakannya dengan sebaik-baiknya.
 
Baca:UNS Kukuhkan Dua Guru Besar Kedokteran
 
“Pendidikan politik harus menjadi prioritas, agar tercipta nilai-nilai budaya politik yang kompatibel dengan demokrasi. Juga penciptaan dan penguatan civil society untuk berperan secara kritis mengawasi eksistensi partai,” jelasnya.
 
Ia juga menyatakan, perlu membangun seperangkat aturan main yang benar-benar dapat mendorong partai untuk memainkan perannya sebagai penyalur aspirasi rakyat dan kontrol terhadap pemerintah. “Dan yang terakhir adalah perbaikan sistem kepartaian yang diharapkan dapat mengarah pada terciptanya partai-partai modern yang siap mendukung penguatan demokrasi di Indonesia,” tutupnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif