Kampus IPB. Foto: IPB/Humas
Kampus IPB. Foto: IPB/Humas

Beberapa Wilayah Sempat Diguyur Hujan Es, Ini Kata Dosen IPB

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 27 September 2020 17:16
Jakarta: Dosen dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Rini Hidayati menjelaskan, fenomena alam hujan es yang sempat mengguyur wilayah Bogor, Ciamis dan beberapa wilayah lainnya beberapa hari lalu. Ia menegaskan, bahwa hujan es yang terjadi tersebut berbeda dengan hujan salju.
 
“Ini kejadian yang tidak sering tapi juga tidak jarang. Kejadian itu biasa terjadi kalau kondisi udara panas, dan kondisi uap air yang ada di udara cukup banyak. Kondisi ini biasanya terjadi di akhir musim kemarau atau awal musim hujan dengan udara yang panas dan lembab, terutama karena banyak uap air yang dibawa oleh angin dari lautan,” terang Rini dalam keterangannya, Minggu, 27 September 2020.
 
Menurut Rini, fenomena hujan es ini terkait erat dengan kejadian Equinox, yakni posisi saat matahari tepat berada di equator sehingga penerimaan energi matahari di wilayah dekat equator cukup tinggi. Kondisi panas dan lembab tersebut menyebabkan terbentuknya awan Comulonimbus (Cb), yaitu awan yang tumbuh vertikal dari ketinggian yang rendah (kurang dari 2.000 meter) sampai dengan ketinggian belasan kilometer.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Awan Cb ini tumbuh vertikal hingga melampaui lapisan suhu nol derajat celsius, berpotensi terjadi pembekuan sehingga butiran hujan menjadi padat (es). Saat turun belum sepenuhnya luruh sehingga sampai ke permukaan tanah masih dalam bentuk padatan," jelasnya.
 
Awan ini sering menghasilkan hujan lebat yang disertai badai dan petir. Awan Cb termasuk awan yang ditakuti oleh pilot ketika menerbangkan pesawat. Para pilot harus menghindari awan Cb karena awan ini merupakan awan badai dengan turbulensi yang hebat, tambah Rini.
 
Kejadian hujan es ini sering terjadi terutama di daerah-daerah yang tidak jauh dari laut. Sebagai contoh, di Jawa ini hampir seluruh wilayah tidak jauh dari laut dan berpotensi dapat terjadi hujan es.
 
"Berbeda dengan di pulau Sumatra dan Kalimantan. Sumatera bagian barat, sering terjadi hujan es. Sementara, wilayah bagian timur dan Kalimantan bagian Timur sangat jarang terjadi hujan es,” ujar Rini.
 
Seiring dengan pola berakhirnya musim kemarau dan datangnya awal musim hujan, fenomena hujan es, lanjut Rini, mempunyai pola pergeseran dari wilayah barat Indonesia ke arah timur. Penerima hujan es umumnya dimulai dari Sumatra bagian Barat Laut ke arah Selatan dan Timur, kemudian menyusul Jawa bagian barat dan selanjutnya ke arah timur dengan skala yang masih sulit diperhitungkan.
 
"Karena fenomena ini bergeser, wilayah di timur dari Bogor misalnya perlu bersiap-siap menerima hujan es yang disertai badai dan petir ini,” tandasnya.
 
Terkait dampak yang ditimbulkan, Rini menjelaskan hujan es tidak memberikan dampak kerusakan yang mengkhawatirkan. Es yang turun tersebut tidak merusak rumah maupun mobil.
 
Namun, dampak negatif justru datang dari hujan lebat, petir dan angin yang menyertainya. Pasalnya, petir yang menyertai lebih berbahaya dan anginnya kencang bahkan bisa terbentuk puting beliung.
 
Fenomena hujan badai ini, lanjutnya, dapat menyebabkan banjir bandang, terutama apabila hujannya terjadi di dataran tinggi dengan lereng terjal dan vegetasi minim. Hujan yang terjadi harus diwaspadai terutama di wilayah lereng yang berpotensi menimbulkan longsor.
 
Terkait petir yang menyertai hujan, Rini menyarankan supaya masyarakat yang bekerja di hamparan seperti petani di sawah yang luas, segera meninggalkan tempat bekerjanya. Terutama bila sudah terlihat akan ada hujan petir karena berpotensi tersambar petir.
 
“Berteduh di bawah pohon yang tinggi juga berpotensi terimbas petir karena petir menyambar benda yang paling tinggi di suatu kawasan,” jelas Rini.
 
Di samping itu, ia juga mengajak seluruh masyarakat dan pemerintah untuk menata kembali daerah tangkapan hujan. Masyarakat perlu bergotong-royong membersihkan saluran-saluran air. Hal ini penting dilakukan guna mencegah banjir yang ditimbulkan oleh hujan yang lebat.
 
“Saat ini beberapa wilayah sudah menjelang atau memasuki awal musim hujan, maka dari itu, mari bersama-sama membersihkan saluran-saluran air dan menanam pohon terutama di daerah tangkapan air guna mencegah terjadinya banjir bandang di masa mendatang,” pungkasnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif