Ilustrasi. Foto:  Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Pakar Unair: Alat Rapid Test Covid-19 di Indonesia Keliru

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Ilham Pratama Putra • 30 Maret 2020 12:18
Jakarta: Pemerintah Indonesia telah mendatangkan alat rapid test covid-19 dari Tiongkok untuk melakukan pemeriksaan virus korona atau coronavirus disease (covid-19). Namun menurut pakar dari Universitas Airlangga (Unair), alat yang didatangkan pemerintah tersebut ternyata memiliki fungsi yang kurang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia.
 
"Pemerintah mengimpor rapid test yang mendeteksi apakah seseorang memiliki antibodi atau imunitas yang cukup agar tahan terhadap korona. Itu sedikit keliru," ujar Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin di Professor Nidom Foundation, Chairul Anwar Nidom saat dikonfirmasi Medcom.id, Senin 30 Maret 2020.
 
Menurutnya alat uji cepat itu tidak sesuai dengan kebutuhan di Indonesia. Alat rapid test yang harus dimiliki Indonesia saat ini adalah yang mampu mendeteksi virus itu sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Indonesia saat ini bukan rapid test antibodi atau imun yang diperlukan. Tetapi alat rapid test yang mampu deteksi virus,” tegas Nidom.
 
Baca juga:Riset Dimulai, Unair Optimistis Segera Temukan Vaksin Korona
 
Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) ini juga menjelaskan, saat ini terdapat dua jenis alat rapid test. Kedua alat test itu diklasifikasikan dalam alat yang mampu mengecek antibodi atau imunitas dan alat yang mampu mengecek virus.
 
Minggu, 29 Maret 2020 lalu, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerima 4.000 set alat pelindung diri (APD) dan 14.400 rapid diagnose test (RTD) kit. Bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu datang pada Sabtu malam, 28 Maret 2020.
 
Wakil Sekretaris Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemerintah DIY, Biwara Yuswantana, menjelaskan, bantuan itu akan diprioritaskan untuk petugas medis yang bersinggungan langsung dengan potensi maupun pasien covid-19.
 
"Bisa juga kerabat atau keluarga yang bersinggungan dengan PDP dan positif virus korona," kata Biwara, Minggu, 29 Maret 2020.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif