Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Covid-19 Terus Bermutasi Jadi Tantangan Pengembangan Vaksin

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Arga sumantri • 26 Mei 2020 13:00
Jakarta: Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) Universitas Gadjah Mada (UGM) Sumardi menyatakan virus korona (covid-19) terus bermutasi dengan cepat. Mutasi terjadi ketika virus mereplikasikan diri di dalam sel dan menyalin kode genetiknya.
 
Virus korona jenis baru ini merupakan virus RNA, yaitu strain yang saat bertemu dengan inang dapat membuat salinan baru yang bisa terus menginfeksi sel lain.
 
"Materi genetik covid-19 adalah RNA dan asam aminonya terus berubah dan mutasi. Berbeda dengan virus DNA yang tidak lebih rentan terhadap perubahan," kata Sumardi mengutip laman UGM, Selasa, 26 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menyebutkan mutasi virus merupakan siklus yang biasa terjadi dalam evolusi virus. Namun, mutasi ini akan mengubah tingkat keparahan penyakit yang disebabkannya. Virus yang telah bermutasi biasanya lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya.
 
Kondisi tersebut, kata dia, berpengaruh pada pengembangan vaksin covid-19. Sebab, virus terus saja bermutasi dari waktu ke waktu yang mengubah perilakunya dalam menginfeksi.
 
Baca:Penjelasan Pakar Unair Soal Herd Immunity
 
Hal itu sama dengan yang terjadi seperti dalam pengembangan vaksin HIV. Hingga saat ini belum ada hasil pengembangan vaksin yang bisa mencegah penyebaran virus HIV karena terus bermutasi. Kondisi itu menyebabkan vaksin yang telah dikembangkan hanya sanggup melindungi dari strain virus tertentu dan tidak bisa digunakan untuk virus jenis baru.
 
"Menjadi tantangan dalam pengembangan vaksin untuk virus jenis RNA, termasuk covid-19. Kalau sudah ditemukan vaksin ke depan harus diperbarui terus karena virusnya juga terus berubah," papar Kepala Divisi Pulmonologi dan Penyakit Kritis RSUP Dr. Sardjito ini.
 
Dia menyampaikan merujuk kembali pada sifat-sifat virus RNA yang pada saat multiplikasi dapat terjadi kesalahan membaca kode asam amino yang menyusun gen virus. Sedangkan, vaksin dibuat sesuai unsur-unsur genetik virus RNA sumbernya.
 
Sementara, pada saat vaksin sudah bisa dipakai untuk vaksinasi massal, virus RNA sudah mengalami mutasi unsur genetiknya. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap vaksin yang telah dihasilkan menjadikan daya proteksinya berkurang. Seperti yang terjadi pada kasus vaksin Swine flu.
 
Sumardi mengatakan dalam pengembangan vaksin covid-19 juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara. Pasalnya, virus korona baru ini memiliki karakteristik berbeda di setiap negara. Virus korona baru yang ada di Indonesia memiliki karakteristik berbeda dengan virus yang ada di Tiongkok, maupun negara lainnya.
 
Informasi Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID) telah ada tiga tipe virus SARS-CoV-2 yang dikelompokkan secara global yaitu S, G, dan V. Sementara virus korona di Indonesia diketahui tidak masuk golongan ketiga tipe dunia yang telah teridentifikasi dan dimasukan sebagai tipe O, singkatan dari 'others' atau lain-lain.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif