Ilustrasi. Foto: MI/Galih Pradipta
Ilustrasi. Foto: MI/Galih Pradipta

Mengetahui Efektivitas UN Perlu Pembanding

Pendidikan Ujian Nasional
Muhammad Syahrul Ramadhan • 29 November 2019 20:40
Jakarta: Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Muchlas Samani menyebut, sebelum mewacanakan Ujian Nasional (UN) dihapus sebaiknya dilakukan kajian dengan membandingkan hasik dari sistem evaluasi lainnya.
 
Muchlas mengatakan pada tahun 1980 ada sistem evaluasi bernama EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir), namun yang menjadi pelaksanaan adalah sekolah. Nantinya, kata Muchlas, UN dapat dikomparasikan apakah di era EBTA prestasi siswa lebih baik atau tidak dan juga sebaliknya.
 
Dengan begitu kata mantan Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) periode 2010-2014 ini, orang tidak hanya menunjuk-nunjuk UN. "Jadi betulkah prestasi naik karena UN? Itu harus ditemukan jangan sampai kita semua menunjuk UN. Saya tidak membela UN. Kalau dari penelitian itu UN menghambat ya monggo," kata Muchlas kepada Medcom.id, di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat, 29 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah itu, yang dikaji selanjutnya adalah bagaimana meracik soal antara memadukan materi dengan kompetensi. Hal ini menurutnya masih belum terwujud. Soal UN menurut Muchlas masih berbasis pada materi.
 
"Katakanlah membuat soal matematika yang menunjukkan orang berpikir kritis, itu diperlukan. Bagaimana membuat soal IPA tapi mengukur kreativitas, memadukan antara konten dengan kompetensi kita belum punya. Karena anak kita diajarkan konten. Content based bukan competence based," ujar Muchlas.
 
Ia mencontohkan, soal di negara Jepang untuk anak SD yang ditanya 'Jepang tidak punya tentara karena Undang-undang tidak memperbolehkan, Undang-undang dibuat sekutu ketika kalah perang 1945 maka Jepang hanya boleh punya pasukan bela diri, kemudian sekitar 2005 NATO notabene sekutu versi baru meminta Jepang mengirim tentara ke Afganistan membantu NATO. Jepang kirim tentara. Pertanyaannya perdana menteri salah apa benar?'
 
"Jawaban benar atau tidak itu tidak penting, yang penting kemampuan dia mencari informasi seperti apa dan kemampuan dia mengkritisi itu, jawaban bisa benar, bisa salah. Membetulkan boleh asal kriteria critical thinking anak muncul," terangnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif