Zulfani Yuninda saat menerima penghargaan The Best Short Fiction Film di Borneo Environmental Film Festival (BEFF) 2019 berkat karya filmnya 'Encret'. Foto: Unej/Dok. Humas
Zulfani Yuninda saat menerima penghargaan The Best Short Fiction Film di Borneo Environmental Film Festival (BEFF) 2019 berkat karya filmnya 'Encret'. Foto: Unej/Dok. Humas

Borneo Environmental Film Festival 2019

Film Karya Mahasiswa Unej Menang Lagi

Pendidikan prestasi mahasiswa
Muhammad Syahrul Ramadhan • 26 September 2019 11:18
Jakarta: Film karya mahasiswa Universitas Jember kembali mempersembahkan kemenangan bagi almamaternya. Kali ini film "Encret" garapan Zulfani Yuninda meraih gelar The Best Short Fiction Film dalam ajang Borneo Environmental Film Festival (BEFF) 2019.
 
Mahasiswi Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya (PSTF FIB) Universitas Jember (UNEJ) ini mengangkat isu penyakit diare yang sering dipandang remeh oleh masyarakat. Zulfani mengemas isu penting itu dalam sebuah film bergenre komedi satir.
 
Zulfani menuturkan, film garapannya itu diangkat berdasarkan data-data yang ia peroleh, bahwa diare masih menjadi penyakit yang banyak diderita khususnya di kalangan anak-anak. Selain itu juga di daerah ia tinggal Desa Glagahwero, Kecamatan Panti masih banyak warga yang melakukan kegiatan mandi dan cuci di sungai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tak heran jika banyak pasien dengan keluhan diare yang berobat ke Puskesmas setempat. Kebetulan Budhe saya yang bekerja di Puskesmas Panti pernah menyampaikan hal ini ke saya,” jelas Zulfahni, dikutip dari siaran pers, Kamis, 26 September 2019.
 
Film Encret yang juga merupakan tugas akhir Zulfani ini menceritakan kisah si Mahmud yang diminta oleh ibunya untuk menjaga adiknya Sawiyah, yang tengah sakit perut. Alih-alih menjaga adiknya, Mahmud malah mengajak Sawiyah bermain balap sepeda.
 
"Mahmud menganggap sakit perut adiknya sebagai hal biasa hingga akhirnya nyawa Sawiyah tak tertolong. Pesan yang saya sampaikan di film ini adalah mari kita budayakan hidup bersih termasuk sanitasi bersih, dan jangan pandang remeh penyakit diare,” tutur mahasiswa angkatan 2014 ini.
 
Untuk proses pengambilan gambar dilakukan di Desa Glagahwero dan Desa Suci pada Maret 2019 lalu. Festival film lainnya, BEFF fokus sebagai ajang kompetisi film yang mengangkat isu-isu lingkungan dan solusinya.
 
BEEF bertujuan untuk mengangkat film-film inspiratif dan edukatif yang diharapkan memotivasi pemirsa untuk keluar membuat perbedaan di komunitas mereka dan di seluruh dunia.
 
BEEF melombakan empat kategori film, yakni film fiksi pendek terbaik, film dokumenter pendek terbaik, film dokumenter panjang terbaik, dan video promosi Kalimantan terbaik. Ajang BEEF tahun ini diikuti oleh 83 karya film dari empat negara, di antaranya dari Malaysia, Kanada, Turki dan tuan rumah Indonesia.
 
Keberhasilan meraih titel The Best Short Fiction Film di ajang BEFF 2019 ternyata menjadi modal berharga bagi Zulfani dalam meraih cita-cita sebagai pembuat film. Kini Zulfani bekerja sebagai crew produksi Film Imperfect yang disutradarai oleh komika, Ernest Prakasa.
 
“Kebetulan jadwal shooting selalu enggak cocok dengan jadwal wisuda, jadi sembari menunggu wisuda saya bekerja, sambil memperdalam ilmu dan praktek di dunia perfilman,” imbuh Zulfani yang lulusan SMAN Rambipuji Jember ini.
 
Sebelum film Encret garapan Zulfani, film Kembang Deso karya Nofita Sari, mahasiswi PSTF FIB Universitas Jember berhasil menjadi film terbaik di Eagle Junior Documentary Camp 2014. Gara-gara film Kembang Deso ini, Nofi diundang pada acara talkshow Kick Andy.
 
Dosen PSTF FIB Deny Antyo Hartanto mengungkapkan, PSTF FIB terus mendorong mahasiswanya agar berani berpartisipasi dalam berbagai festival film yang ada. Salah satu caranya adalah melalui beberapa mata kuliah yang bermuara pada pembuatan film sebagai tugas akhirnya.
 
“Misalnya saja dalam mata kuliah praktikum terpadu, maka mahasiswa wajib membuat film atau produksi televisi sebagai tugasnya. Begitu pula jika mahasiswa sudah pada tahap tugas akhir, kami beri dua pilihan akan mengerjakan skripsi pengkajian televisi dan film, atau membuat film atau program televisi. Jika memilih tugas akhir pembuatan film maka nanti hasil film-nya kita kirimkan ke berbagai festival film,” ungkap pria yang bisa dipanggil Deny ini.
 
PSTF FIB Universitas Jember selalu menekankan pada mahasiswanya agar menggali ide-ide film dari permasalahan yang ada di lingkungan sekitar Jember dan Besuki Raya. Termasuk mengangkat kearifan lokal yang ada, bahkan memakai bahasa daerah setempat.
 
“Misalnya saja film Etanan yang menampilkan potensi Jawa Timur, Film Bhako yang bercerita mengenai pahit getirnya petani tembakau, film Rawuh yang mengangkat problema TKI, serta Film Kaji Dullah yang mengisahkan bagaimana serba serbi sebuah pemilihan kepala desa dilakukan,” sebut Deny.
 
Guna memperkenalkan film-film karya mahasiswa PSTF FIB Universitas Jember, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PSTF melalui divisi distribusinya memiliki program pemutaran film-film karya mahasiswa PSTF di berbagai kegiatan festival dan kegiatan seni lainnya.
 
“PSTF FIB juga bekerja sama dengan salah satu bioskop di Jember, harapannya film-film karya mahasiswa PSTF FIB Universitas Jember juga bisa diputar di sana agar masyarakat Jember dan sekitarnya juga berkesempatan menikmati karya arek-arek Tegalboto,” pungkas Deny.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif