Rektor IPB, Arif Satria (kiri) saat peluncuran uji coba pertanian 4.0 berlangsung di demontration plot (demplot) Unit Bekri PTPN VII Lampung, IPB/Humas.
Rektor IPB, Arif Satria (kiri) saat peluncuran uji coba pertanian 4.0 berlangsung di demontration plot (demplot) Unit Bekri PTPN VII Lampung, IPB/Humas.

IPB Gandeng Dua BUMN Kembangkan Pertanian 4.0

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 23 April 2019 17:26
Jakarta: Institut Pertanian Bogor (IPB) menggandeng dua BUMN untuk mengaplikasikan konsep pertanian 4.0. Dua BUMN itu adalah PT Pupuk Kaltim dan dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, V, dan VIII.
 
Rektor IPB, Arif Satria menyampaikan, program pertama peluncuran uji coba pertanian 4.0 berlangsung di demontration plot (demplot) Unit Bekri PTPN VII Lampung, Senin, 22 April 2019. Demplot adalah suatu metode penyuluhan pertanian kepada petani, dengan cara membuat lahan percontohan, agar petani bisa melihat dan membuktikan objek yang didemontrasikan.
 
Tim IPB yang diketuai Prof. Dr. Kudang Boro Seminar ini berkolaborasi dengan Pupuk Kaltim dan telah menghasilkan sistem rekomender nutrisi (pupuk), yang diberi nama Precipalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm). Sistem ini berbasis pertanian presisi (precision agriculture) dengan menggunakan analisis citra yang ditangkap satelit Sentinel 2 untuk menentukan peta kandungan hara makro (N, P dan K).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sistem ini mampu memberikan rekomendasi pupuk sesuai keragaman dari peta hara di suatu perkebunan," kata Rektor IPB, Arif Satria dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa, 23 April 2019.
 
Baca:IPB Siap Cetak 500 Sociopreneur untuk Jawa Barat
 
Menurut Arif, hal ini penting untuk meningkatkan akurasi dan efektivitas pemupukan di perkebunan sawit PTPN. Seperti diketahui, bahwa pemupukan adalah bagian dari proses produksi yang memerlukan biaya sangat tinggi.
 
"Dengan dikenalkan pemupukan presisi diharapkan tercipta pemupukan yang tepat sesuai kebutuhan tanaman, sehingga efisiensi bisa tercipta dan pembiayaan pemupukan bisa lebih dihemat," ujar Arif.
 
Untuk melakukan uji aplikasi lanjutan dari Precipalm, IPB dan Pupuk Kaltim berkolaborasi dengan beberapa PTPN (PTPN III, PTPN V dan PTPN VII) untuk melakukan Demplot di lokasi kebun PTPN. Tujuannya untuk dapat membandingkan dan mempelajari perbedaan hasil rekomendasi pupuk yang dihasilkan dari Precipalm dan hasil rekomendasi pupuk yang selama ini dilakukan di PTPN.
 
Arif mengatakan, sistem ini merupakan bagian dari karakteristik dari agroindustri 4.0 dengan pemanfatan sensing devices, drones, satelites, dan IoT. Penggabungan antara satelit dan drone untuk saling mengoptimalkan fungsi sistem ketika berhadapan dengan kendala tutupan awan (untuk satelit) dan luasan tangkap citrayang terbatas (untuk drone).
 
Hal ini juga merupakan bagian dari manifestasi perbaikan bisnis proses pemupukan yang biayanya mendominasi proses produksi sawit (kurang lebih 60%) dari keseluruhan biaya produksi sawit. Contoh komponen biaya pemupukan yaitu pada uji laboratorium yang memakan waktu analisis tujuh hari hingga enam bulan.
 
Bila uji coba ini berhasil maka Precipalm akan diterapkan di seluruh perkebunan PTPN di Indonesia. "Tergantung pada kelengkapan sarana laboratorium. Bagi perkebunan yang tidak memiliki sarana laboratorium tentu menjadi kendala risiko biaya, penurunan kualitas dan kerusakan sampel ketika dalam perjalanan," jelasnya.
 
Menurut Ketua Tim kolaborasi perwakilan ITB, Kudang Boro Seminar, hasil uji Demplot akan memperoleh bukti riset dan eksperimental kinerja. Selain itu juga aplikabilitas dari Precipalm sebagai alternatif dan inovasi baru dalam melakukan analisis hara dan rekomendasi pupuk yang bervariasi berdasarkan keragaman kandungan hara di suatu lahan perkebunan sawit.
 
Sistem aplikasi penentuan peta hara kelapa sawit berbasis analisa citra Satelit Sentinel dan citra Drone dapat dibangun. "Sistem ini diharapkan menjadi salah satu alternatif solusi sistem pendugaan hara dan rekomendasi pupuk pada kebun kelapa sawit berbasis pertanian presisi dan real time data analytic," kata Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB ini.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif