Rektor IPB University, Arif Satria.  Foto: Dok. Medcom.id
Rektor IPB University, Arif Satria. Foto: Dok. Medcom.id

Rektor IPB Konsumsi Permen 'Cajuput' Saat Penyembuhan Covid-19

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 27 September 2020 17:47
Jakarta: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria telah dinyatakan sembuh dari covid-19 setelah dua kali hasil tes usapnya dinyatakan negatif oleh dokter. Belajar dari pengalamannya sebagai penyintas covid, Arif pun membagikan sejumlah catatan yang mendukung dalam proses penyembuhannya.
 
Paling tidak ada tiga catatan pembelajaran yang Arif bagikan sebagai penyintas covid-19. Pertama, ketahanan spiritual, seperti yang ia kutip dari Ibnu Sina “kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan”.
 
Kemudian dalam proses penyembuhan covid-19 tersebut, Arif semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan membangun keikhlasan, membangun prasangka baik, termasuk melihat cobaanNYA ini sebagai momentum perbaikan diri. Yakni, momentum menjadi pribadi yang berkualitas, sabar, rendah hati, peduli, dan menjadi hamba yang lebih baik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kekuatan iman mendatangkan kemampuan mengambil hikmah setiap cobaan. Ingat janji Allah bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan (QS 94:5-6). Kekuatan iman akan mendatangkan prasangka baik," kata Arif dalam keterangan tertulis, Minggu, 27 September 2020.
 
Menurut Arif, prasangka baik kepada Allah adalah sumber ketenangan, dan ketenangan adalah sumber peningkatan imun, sebab imun adalah pertahanan terbaik menghadapi penyakit. "Karena itu, berprasangka baiklah kepada Allah karena Allah akan berkehendak sesuai prasangka hambaNYA," terangnya.
 
Kedua, kata Arif, adalah ketahanan interpersonal. Ia menyatakan secara terbuka, bahwa dirinya positif terinfeksi covid-19. Hal in ia lakukan, untuk memudahkan tracing dan meminimalisir risiko menularnya ke orang lain.
 
"Setelah informasi meluas, doa terus bergema. Yang pokok adalah doa orang tua dan keluarga yang memiliki ketulusan khusus. Begitu pula peran para sahabat dalam mengirimkan doa dan semangat, mengirimkan tips pengobatan, dan bahkan banyak yang membantu obat-obatan," sebutnya.
 
Komunikasi interpersonal yang baik menjadi sumber kebahagiaan. Sebaliknya, komunikasi interpersonal yang buruk akan menjadi energi negatif yang menguras emosi yang bisa menurunkan imun.
 
"Cinta tulus tak bersyarat para sahabat melalui doa dan atensi adalah energi positif, yang menciptakan ketenangan, semangat baru, dan optimisme kesembuhan yang bisa memperkuat imun," bebernya.
 
Ketiga, ketahanan fisik, yang bisa muncul dari ketahanan spiritual dan interpersonal di atas. Namun demikian ketahanan fisik juga harus diperkuat dengan tindakan medis.
 
Rumah sakit (RS) memiliki standar 'obat-obatan' anticovid-19 berupa paket multivitamin C-D-E dan zinc, obat-obatan termasuk antibiotik, makanan bergizi dan obat kumur, yang sebagian besar ditujukan untuk peningkatan imun.
 
"RS melakukan pemantauan rutin suhu, tekanan darah, dan saturasi," terang Arif.
 
Baca juga:Rektor IPB Positif Covid-19, Pembatasan Masuk Kampus Diperpanjang
 
Menurut Arif, siapapun yang dinyatakan positif sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan diagnosis paru-paru, darah, dan sekaligus deteksi kemungkinan ada penyakit sampingan yang akan berpengaruh untuk strategi pengobatan covid-19.
 
"Selain itu, Saya mengonsumsi obat-obatan herbal berbagai merk, propolis, permen Cajuput kayu putih inovasi IPB, madu, jahe merah, dan setiap saat menghirup aroma minyak kayu putih baik dengan euca roll on, maupun menghirup uap air panas yang ditetesi kayu putih. Saya juga mengkonsumsi air Zam Zam," sebutnya.
 
Banyak juga, kata Arif, yang mengirimkan ramuan herbal lain yang tak bermerk. Sebagian ia konsumsi ketika sudah mengetahui kandungannya. "Semua konsumsi obat herbal perlu kita konsultasikan ke dokter," katanya.
 
Dari semua itu, kunci menghadapi covid-19 adalah imun, dan peningkatan imun bisa terjadi karena penguatan ketahanan spiritual, interpersonal, dan fisik. Namun ia menegaskan, bahwa apa yang disampaikannya ini tidak berpretensi sebagai analisis faktor kesembuhan.
 
"Saya hanya sekadar cerita dan refleksi apa yang saya lakukan dan alami selama enam hari perawatan di RS ini, yang Alhamdulillah kemudian dinyatakan sembuh setelah uji swab-nya negatif. Mari kita terus saling mendoakan semoga sehat selalu sehat walafiat. Semoga bermanfaat," tutupnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif