Ilustrasi. Foto:  Antara/Akbar Nugroho Gumay
Ilustrasi. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay

Kerap Jadi Momok, ITS Bantu Siswa Pahami IPA

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 26 Desember 2019 16:38
Jakarta: Mata Pelajaran (Mapel) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang seringkali dianggap momok oleh pelajar menjadi perhatian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk mengubahnya. ITS memandang perlu ada peningkatan proses pembelajaran bidang IPA di jenjang sekolah.
 
Untuk itu ITS menggelar lokakarya guna meningkatkan pemahaman siswa SMP dengan menggandeng guru Mapel IPA SMP di Sidoarjo dan Surabaya. Sekretaris ITS, Agnes Tuti Rumiati mengatakan, meningkatkan proses pembelajaran bidang IPA harus dilakukan, bukan tanpa sebab, karena belakangan ini seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) semakin ketat.
 
“Semakin awal kita bimbing, semakin siap siswa menghadapi seleksi masuk PTN,” kata Tuti, dilansir dari laman ITS, Jakarta, Kamis, 26 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tuti menjelaskan, alasan mendasar mapel IPA selalu menghantui siswa adalah metode yang digunakan, yaitu hafalan dan hitung-hitungan harus dikuasai siswa untuk memahami pelajaran ini. Hal itu menurutnya yang membuat siswa mengalami kesulitan.
 
“Ini menjadi tantangan bagi guru untuk mengubah paradigma tersebut,” tuturnya.
 
Lebih lanjut, Tuti menyebut, tantangan yang dihadapi guru selain ketakutan siswa adalah latar belakang dan penempatan mereka yang berbeda. Ia mengatakan bahwa ada kalanya, mereka yang lulusan fisika tetap dituntut untuk menguasai biologi, begitupun sebaliknya.
 
“Saya harap hal ini tidak menjadi persoalan besar dan dapat bapak ibu tangani sendiri,” ujar Dosen Departemen Statistika ITS tersebut.
 
Tuti menekankan, agar guru mempunyai jurus jitu ketika menyampaikan materi. Tidak perlu bertele-tele dan bisa dipahami dengan baik dan jelas oleh siswa.
 
Hal tersebut kemudian akan membuat rasa ingin tahu siswa meningkat. “Rasa ingin tahu yang tinggi akan diiringi dengan semangat belajar yang juga tinggi," jelasnya.
 
Ia juga berbagi tips agar siswa dapat memahami mapel IPA. Yang paling utama, sebut Tuti, adalah menelaah kekurangan murid. Selain itu, guru harus memastikan bagaimana pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.
 
“Siswa yang kurang aktif menjadi sasaran utama kita, mereka diam karena sudah paham atau sebaliknya,” tuturnya.
 
Selain murid, sarana dan prasarana (sarpras), sebutnya, juga menjadi hal penting untuk ditelaah. Kelayakan fasilitas harus diutamakan, yang sudah tidak layak pakai, perlu dilakukan pembenahan dan pembaharuan, sehingga bisa tercipta suasana belajar yang nyaman.
 
“Sarana prasarana yang memadai membuat suasana belajar menjadi lebih baik,” tekannya.
 
Evaluasi, kata Tuti, menjadi langkah wajib yang harus dilakukan. Evaluasi tersebut harus ditulis atau didokumentasikan.
 
Tujuannya, untuk menjadi bukti jika masih banyak kekurangan dalam proses pembelajaran yang harus dibenahi. “Selanjutnya evaluasi ini dibagi dan didiskusikan kepada teman sesama guru untuk mencari solusi terbaik,” ungkap Tuti.
 
Tuti berharap agar para guru SMP ini menerapkan langkah-langkah yang telah dijelaskannya. Ia yakin jika langkah-langkah tersebut dilakukan maka peningkatan mutu pun dapat tercapai.
 
“Saya percaya seorang guru akan senang saat melihat murid-muridnya sukses,” tutupnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif