Taklimat media terkait hasil PISA 2018 di Gedung Kemendikbud, Jakarta. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Taklimat media terkait hasil PISA 2018 di Gedung Kemendikbud, Jakarta. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Skor PISA Indonesia Merosot

Pendidikan Kualitas Pendidikan PISA 2018
Muhammad Syahrul Ramadhan • 03 Desember 2019 19:00
Jakarta:Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merilis pencapaian nilai Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang mengujikan tiga kompetensi dasar, yakni membaca, matematika, dan sains. Hasil PISA ini dirilis bersama dengan 77 negara peserta survei PISA di 2018.
 
Peringkat siswa Indonesia di tiga kompetensi tersebut mendudukkan Indonesia di posisi 72 dari 77 negara Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Skor ini mengalami penurunan dari periode penilaian sebelumnya, yakni peringkat 62 dari 70 negara di 2015.
 
Berdasar nilai rerata, terjadi penurunan nilai PISA Indonesia di seluruh kompetensi yang diujikan. Penurunan terlihat pada kompetensi membaca, dari 397 poin pada 2015 menjadi 371 poin di 2018, sementara rata-rata OECD 487.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam kompetensi matematika menurun dari 386 poin di 2015 menjadi 379 poin di 2018 dari rata-rata OECD 489. Begitu juga untuk kompetensi sains dari 403 di 2015 menjadi 396 poin di 2018 berada di bawah rata-rata OECD yang mencapai 489.
 
"Dari laporan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi pelajar Indonesia di bawah rata-rata OECD, baik untuk membaca, matematika, dan sains," kataYuri Belfali, Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD saat menyampaikan paparannya, di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.
 
Peringkat Indonesia di antara lima negara di Asia Tenggara yang masuk OECD juga hanya unggul dari Filipina yang berada di posisi buncit dari 77 negara. Sementara Thailand di peringkat ke-66, Brunei Darussalam di peringkat ke-59, Malaysia di peringkat ke-56, dan Singapura di peringkat ke-2.
 
Masih berdasarkan data PISA 2018, dibandingkan dengan rata-rata OECD, sebanyak 30 persen siswa Indonesia mencapai setidaknya tingkat ke-2 kemampuan membaca. Sementara rata-rata kompetensi membaca siswa di negara-negara OECD sudah mencapai 77 persen.
 
"Artinya,para siswa ini memiliki kesulitan untuk menginterpretasikan isi bacaan (teks) panjang," kata Yuri.
 
Untuk kemampuan matematika disebut 28 persen yang mampu sampai kemahiran tingkat dua atau lebih, rata-rata OECD 76 persen.Sementara kemampuan sains, 40 persen siswa kita mampu berada di tingkat kemahiran level 2.
 
Artinya, paling tidak siswa dapat mengenali penjelasan yang tepat tentang sebuah fenomena dan bisa mengidentifikasi menggunakan pengetahuannya. Sedangkan rata rata OECD mencapai 78 persen.
 
Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang tahun ini diikuti oleh 77 negara di seluruh dunia.
 
Setiap tiga tahun, murid-murid berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak, menempuh tes dalam mata pelajaran utama, yaitu membaca, matematika, dan sains. Tes ini bersifat diagnostik yang digunakan untuk memberikan informasi yang berguna untuk perbaikan sistem pendidikan. Indonesia telah berpartisipasi dalam studi PISA mulai 2000.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif