Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Alat Pantau Longsor LIPI Habiskan Biaya Penelitian Rp300 Juta

Pendidikan inovasi
Kautsar Widya Prabowo • 03 Januari 2019 12:48
Jakarta:  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan anggaran yang diperlukan untuk membuat LIPI Wireless Sensor Network for Landsilde Monitoring (Wiseland) cukup terjangkau. Alat tersebut berfungsi untuk memantau pergerakan tanah yang berpotensi longsor, dengan berbasis jejaring sensor nirkabel. 

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari menjelaskan, dalam satu set alat Wiseland, dikerjakan selama satu tahun. Dengan anggaran kurang lebih Rp300 juta.

"Rp200 juta untuk alat itu (Wiseland), Rp100 juta untuk uji coba di lapangan," ujarnya kepada Medcom.id, di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Rabu, 2 Januari 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Sedangkan untuk perawatan sendiri, tidak membutuhkan upaya yang berlebih. Pasalnya dalam waktu satu tahun hanya perlu dilakukan perawatan sebanyak tiga kali. "Kalau hanya perawatan, dari baterainya, kalau sudah tidak bisa mengisi daya lagi berarti tertutup debu, nah kita kelapangan, kecuali kita memberdayakan masyarakat setempat, itu akan lebih simpel," imbuhnya.

Selain memiliki harga yang terjangkau dan perawatan yang mudah, alat tersebut juga memiliki keunggulan, yaitu dapat dipindahkan secara fleksibel ketika masa tanggap darurat. Sebab dalam jangka waktu dua minggu, lokasi yang baru saja terkena bencana tanah longsor, kerap terjadi gempa susulan.

"Supaya kita pasang tidak terlalu ribet, harus mendirikan monumen gateway, kita buat mobile gateway bisa kita bawa pulang, kalau yang permanen tetap ada juga untuk wilayah potensi ancaman longsoran," imbuhnya.

Baca: Pengembangan Alat Peringatan Dini Tsunami Terkendala Dana

Lebih lanjut, alumni Universitas Okayama Jepang dengan konsentrasi bidang tanah longsor ini berhasil membuat alat tersebut, agar dapat terkoneksi antara satu sensor dengan sensor lainya. Mengingat sensor yang diletakan di lapangan lebih dari satu, agar dapat menjangkau kawasan yang luas.

"Jarak antar sensor bisa dua kilometer, masing - masing sensor bisa berkomunikasi dengan jejaring, kita bisa sebar yang jauh dengan bantuan sensor terdekat hingga 10 km, manfaatnya bisa bantu lokasi yang jauh," imbuhnya.

Selain itu, alat yang telah rampung dikerjakan sejak 2015 ini memiliki sepesfikasi yang mendukung, untuk mengetahui secara pasti kapan terjadinya tanah longsor. Seperti adanya wire extensometer, yang berfungsi untuk mengukur pergerakan lereng.

Lalu ada rain gauge module, untuk mengetahui curah hujan, analog sensor module digunakan mengukur kelembaban, kandungan air di dalam tanah, serta pori air. Serta ada juga Tiltmeter untuk mengukur perubahan kemiringan lereng.

"Kalau dia bergerak (tilmeter) ada potensi untuk perubahan kemiringan lereng jika ada gejala longsoran," pungkasnya.


(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi