Suasana perakitan mobil Mercedes-Benz di pabrik Mercedes-Benz Indonesia, Wanaherang, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, ANT/Sigid Kurniawan.
Suasana perakitan mobil Mercedes-Benz di pabrik Mercedes-Benz Indonesia, Wanaherang, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, ANT/Sigid Kurniawan.

Perguruan Tinggi Diminta Tak Lahirkan Pengangguran Terselubung

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 22 Januari 2019 16:58
Jakarta:Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir meminta para rektor mengantisipasi pergeseran standar kompetensi yang dibutuhkan industri akibat masuknya era disrupsi teknologi. Sebab jika tidak tanggap menyesuaikan diri, perguruan tinggi akan kehilangan fungsinya dan berpotensi hanya melahirkan pengangguran terselubung.
 
Nasir mengatakan, para rektor harus kreatif dan inovatif dalam mengelola program studi yang ada di perguruaan tingginya. Program studi yang ada di perguruan tinggi harus menjadi prodi yang dibutuhkan dunia industri.
 
Jika tidak, perguruan tinggi akan kehilangan fungsinya saat gagal mengantisipasi pergeseran standar kebutuhan industri yang kerap berubah secara tiba-tiba dan besar-besaran. "Jangan sampai kita di kampus mengajarkan anak-anak kita ilmu yang tiba-tiba sudah tidak dibutuhkan industri lagi. Nanti hanya akan jadi pengangguran terselubung, nampaknya saja sarjana, tapi ternyata industri tidak membutuhkannya. Para rektor harus memikirkan itu," seru Nasir, di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Selasa, 22 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nasir membandingkan dengan pengelolaan perguruan tinggi di Korea Selatan, di mana pengelolaan prodi di sana menggunakan pendekatanmerge,closedancut. Mergeatau penggabungan dilakukan jika ada kampus yang kurang sehat digabung dengan kampus lainnya agar menjadi sehat.
 
Baca:Siswa Lolos SNMPTN Tidak Boleh Mendaftar di SBMPTN
 
Kemudianclose (tutup), langkah penutupan prodi tak segan-segan dilakukan jika ada prodi yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan industri. "Prodi tersebut kemudian digeser ke ilmu yang sedang berkembang, sepertiartificialintelligence, dancodingyang saat ini sedang berkembang luar biasa," imbuh mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.
 
Nasir mengaku sangat berharap para rektor tidak lagi mengelola perguruan tinggi dengan modelbussiness as usual."Jangan mengelola kampus dengan begitu-gitu saja. Rektor, direktur harus kreatif dan inovatif," tutup Nasir.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif