Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan HB X (kanan) menerima sertifikat gelar doktor honoris causa (HC) dari Rektor UNY, Sutrisna Wibawa (kedua kiri). Foto: ANT/Andreas Fitri Atmoko.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan HB X (kanan) menerima sertifikat gelar doktor honoris causa (HC) dari Rektor UNY, Sutrisna Wibawa (kedua kiri). Foto: ANT/Andreas Fitri Atmoko.

Sri Sultan HB X Mendapat Doktor Honoris Causa dari UNY

Sultan HB X: Pendidik Jangan Hanya 'Berorasi' di Kelas

Pendidikan Metode Pembelajaran
Antara • 06 September 2019 19:28
Yogyakarta: Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, peran pendidik dituntut tidak hanya mentransfer ilmu atau sekadar berorasi di depan kelas. Terutama dalam menyiapkan siswa menghadapi tantangan kompetisi di era Revolusi Industri 4.0.
 
"Satuan pendidikan harus menyiapkan kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi Industri 4.0," kata Sultan saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara penganugerahan gelar doktor Honoris Causa (HC) Bidang Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 5 September 2019.
 
Sebagai pendidik, menurut Sultan, guru harus memiliki tanggung jawab untuk membawa siswanya bertahan pada kehidupan yang akan datang. Dengan berbekalskill masa depan karena Revolusi Industri 4.0 muncul dengan menekankan pembaruan serba teknologi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sultan mengatakan, revolusi Industri 4.0 atau Revolusi Industri Generasi ke empat menitikberatkan pola digitalisasi dan otomasi di semua aspek kehidupan manusia. Sayangnya, ia menilai saat ini banyak pihak yang belum menyadari akan adanya perubahan tersebut terutama di kalangan pendidik.
 
"Padahal semua itu adalah tantangan generasi muda atau generasi milenial saat ini yang harus dibimbing dan diarahkan oleh para pendidik kita," kata Sultan.
 
Skill masa depan yang perlu dimiliki para siswa menghadapi pembaharuan serba teknologi, menurut dia, di antaranya mencakup pola digital economy (digitalisasi ekonomi), artificial intelligence (kecerdasan buatan), big data (data dalam skala besar), robotic (pemakaian robot sebagai tenaga kerja).
 
Oleh sebab itu, lanjut Sultan, menghadapi Revolusi Industri 4.0, para pendidik saat ini dituntut untuk mampu melahirkan subjek didik yang terus menjadi manusia pembelajar. "Tentunya pola pendidikan jadul (zaman dulu), kini menjadi kurang relevan untuk diterapkan pada generasi sekarang yang terkena dampak langsung Revolusi Industri 4.0," kata Sultan.
 
Tanggung jawab para pendidik, menurut dia, juga diperlukan mengingat dampak dari Revolusi Industri 4.0 diprediksi akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan karena digantikan sistem
komputerisasi atau digital. Sultan menyebutkan, berdasarkan studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute di 46 negara, ditemukan bahwa lebih dari 800 juta pekerjaan akan tergantikan dengan adanya automasi.
 
"Hal ini menjadi tantangan dari para generasi muda dan lembaga pendidikan ke depan. Karena itulah sistem pendidikan juga harus mampu menyesuaikan dengan kondisi ini," tutup Sultan.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif