Sekjen Kemendikbud, Didik Suhardi menyerahkan Anugerah Kihajar 2019 kepada Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun. Foto: Kemendikbud/BKLM
Sekjen Kemendikbud, Didik Suhardi menyerahkan Anugerah Kihajar 2019 kepada Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun. Foto: Kemendikbud/BKLM

Meski Tertinggal, Seluruh SMP di Maluku Tenggara Terkoneksi Internet

Pendidikan ujian nasional
Intan Yunelia • 15 November 2019 16:15
Jakarta: Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun meraih Anugerah Kihajar (Kita harus belajar) 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Kategori Pertama, pada Kamis malam, 14 November 2019.
 
Kepala Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom Kemendikbud), Gogot Suharwoto menilai, Maluku Tenggara layak meraih penghargaan Kihajar 2019, karena telah melakukan pelayanan yang total di bidang pendidikan.
 
Seluruh sekolah menengah pertama (SMP) di kabupaten tersebut, kata Gogot, sudah terkoneksi dengan internet, sehingga memungkinkan para siswanya menempuh Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)."Semua SMP di Maluku Tenggara sudah UNBK. Meski tertinggal, ternyata semua sekolah SMP sudah mendapatkan fasilitas TIK. Ini patut diapresiasi," terang Gogot.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Thaher dinilai berhasil menjaga komitmenKabupaten Maluku Tenggara yang masuk dalam kategori 3T (terdepan, terluar, tertinggal) itu untuk meningkatkan mutu dan akses pendidikan melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). "Daerah saya memang jauh dari ibu kota, tapi itu bukan hal yang membuat saya jadi turun semangat. Saya punya komitmen dengan seluruh rakyat Maluku Tenggara termasuk kepala sekolah, bahwa semua harus ikut bersama-sama membangun," ujar Thaher.
 
Thaher menyadari betul, pemanfaatan TIK sangat strategis dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, terlebih lagi di daerah 3T. Mengingat kesenjangan layanan terutama sarana dan prasarana pendidikan antardaerah di Indonesia masih cukup tinggi.
 
Masalah tersebut, kata Thaher, harus mendapatkan afirmasi, salah satunya dari teknologi pembelajaran. Terbukti, kehadiran TIK di daerahnya sangat efektif dalammendukung proses pembelajaran, meningkatkan kapasitas guru, pengembangan kurikulum, hingga pembentukan karakter siswa.
 
"Saat ini siswa yang menggunakan teknologi akan lebih siap menghadapi dunia kerja dan mengembangkan sikap berpikir ilmiah dan kritis. Perlu diingat, Siswa menjadi lebih kritis karena mereka mengenal teknologi lebih dini," kata Thaher.
 
Diakui Thaher, kehadiran teknologi dalam proses pembelajaran tidak dengan mudah diserap para guru. Untuk itu, butuh kesabaran dan ketekunan untuk mengubah paradigma mengajar dari tradisional menjadi berbasis TIK.
 
"Perlu mengubah cara pandang mereka dan segera memanfaatkan teknologi untuk membantu mereka menyampaikan materi dengan lebih efektif," kata Thaher.
 
Penerapan TIK di Maluku Tenggara, bagi Thaher membutuhkan penekanan pada tiga prinsip. Yakni pemberdayaan sekolah, guru, staf, dan masyarakat sekitar dalam memberikan motivasi siswa untuk belajar. Agar kesadaran tersebut tumbuh dari masyarakat, maka pembelajaran berbasis TIK harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
 
"Tidak hanya itu, pendekatan pembelajarannya pun harus berorientasi pada siswa," terangnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif