Mendikbud Nadiem Makarim. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.
Mendikbud Nadiem Makarim. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.

Nadiem: Intoleransi Pemantik Kasus Perundungan di Sekolah

Pendidikan sekolah toleransi beragama Kebijakan pendidikan Nadiem Makarim
Ilham Pratama Putra • 05 Maret 2021 17:26
Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyatakan, kasus intoleransi masih ditemui di dunia pendidikan Indonesia. Hal ini pun menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan Tanah Air.
 
Nadiem menyatakan intoleransi merupakan salah satu dosa besar yang terjadi di dunia pendidikan. Pasalnya, intoleransi ini bisa meluas pada permasalahan bullying atau perundungan.
 
"Kami menyadari bahwa praktik intoleransi masih ada di dunia pendidikan kita dan menjadi salah satu penyebab terjadinya perundungan atau bullying di lingkungan sekolah," kata Nadiem dalam acara Convey Day 2021: Berbeda Tetap Bersama secara daring, Jumat, 5 Maret 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Padahal, menurut Nadiem, berbagai perbedaan di Indonesia telah menjadi dasar kelahiran bangsa. Hal ini juga tertuang dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
 
Baca: Dosen Keluhkan Informasi Kenaikan Pangkat, Kemendikbud Luncurkan 'Selancar'
 
Nadiem menekankan, sudah sepantasnya masyarakat untuk bersama-sama menyalakan semangat toleransi. Menghargai perbedaan hingga sikap gotong royong antar umat beragama, suku, ras dan golongan harus hidup di tengah masyarakat.
 
Kemendikbud, kata dia, telah membangun koridor toleransi beragama itu melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri terkait penggunaan seragam dan atribur keagamaan di lingkungan sekolah. Dalam SKB itu, setiap warga sekolah harus bisa menghargai pilihan seragam atau atribut keagamaan seseorang yang berada di sekolah.
 
"Salah satu yang baru saja kami upayakan adalah mendorong sekolah dan pemerintah daerah agar memberikan hak penuh kepada siswa dan orang tua terkait penggunaan seragam atribut agama," ujarnya.
 
Baca: Kemendikbud Bidik 16 Ribu Pelajar Jadi Wirausaha
 
Nadiem berharap pemaksaan dan pembatasan hak di lingkungan sekolah tidak akan terjadi lagi. Tenggang rasa di antara sesama siswa ataupun antara guru dan siswa pun bisa semakin terbentuk. 
 
Dia pun mengajak warga pendidikan untuk terus menghidupkan rasa toleransi. Ia menekankan, semangat saling menghargai satu sama lain dan mencintai perbedaan bisa dihidupkan dari sekolah.
 
"Mari kita terus meyakini bahwa kita memang berbeda, tapi kita tetap bersama," ungkapnya.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif