Kampanye edukatif tentang virus korona dalam 42 bahasa daerah. Foto: Dok. UGM
Kampanye edukatif tentang virus korona dalam 42 bahasa daerah. Foto: Dok. UGM

'Kampanye Covid-19' dalam 42 Bahasa Daerah Siap Lawan Hoaks

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 30 Maret 2020 09:40
Jakarta: Banyak cara yang dapat ditempuh untuk menyosialisasikan tentang virus yang kini tengah menjadi pandemi, yakni coronavirus disease (covid-19) atau virus Korona. Seperti yang dilakukan oleh Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi).
 
Japelidi yang sebagian besar anggotanya adalah dosen dari 78 perguruan tinggi di 30 kota di Indonesia tersebut menginisiasi kampanye bertajuk ‘Lawan Hoaks Covid-19’. Kampanye ini dilakukan untuk mengimbangi banjir hoaks di tengah masyarakat tentang virus korona.
 
Komunitas ini melakukan kampanye menggunakan konten digital bertema ‘Jaga diri dan Jaga Keluarga’ dan menuangkan materi kampanyenya ke dalam 42 bahasa daerah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kami membuat beragam konten digital ‘Jaga diri dan Jaga Keluarga’ ke dalam 42 bahasa daerah, selain bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin. Hal itu agar bisa lebih dekat dengan keseharian masyarakat kita yang majemuk. Produksi konten berbahasa daerah ini masih akan bertambah sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Koordinator Japelidi Novi Kurnia, dikutip dari laman UGM, Jakarta, Senin, 30 Maret 2020.
 
Novi menyebut, untuk mengampanyekan konten edukatif berbahasa daerah tersebut, Japelidi berkolaborasi dengan sejumlah pihak. Mulai dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), dan Komunitas “Berbeda Itu Biasa”.
 
Novi menyebut, penyebaran konten dilakukan melalui akun Instagram @japelidi dan Twitter @japelidi. Selain itu, penyebaran juga dilakukan melalui akun media sosial dan sudah ada beberapa poster digital yang sudah dibagikan seperti “Jaga diri dan Jaga Keluarga”, “Perlindungan Data Pribadi”, dan “Sumber Informasi Terpercaya”, serta videografik tips menemani anak belajar di rumah.
 
“Tanggapan warganet sangat positif. Misalnya, banyak orang atau komunitas meminta kami mengirim file untuk mereka cetak sendiri lalu membagikannya kepada warga berusia lanjut di sekitar mereka. Bahkan ada yang membuatnya menjadi spanduk. Memang banyak orang tidak mengakses jejaring sosial sehingga akses informasi mereka pun terbatas,” ungkap Novi.
 
Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Fisipol UGM ini juga menyampaikan, selain secara daring, komunitasnya juga melakukan gerakan secara luring. Dengan membagikan sabun dan hand sanitizer bagi warga yang masih harus bekerja di luar rumah, seperti pengendara ojek dan pedagang pasar.
 
Untuk dana gerakan ini para anggota Japelidi menggalang donasi. Kegiatan luring dilakukan oleh tim Japelidi dan warga dengan membagikan selebaran, poster, dan spanduk di tempat-tempat strategis di banyak daerah, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali, Salatiga, Semarang, Lamongan, Malang, Bandung, Ponorogo, Depok, Surabaya, Sukabumi, Blora, Grobogan, Bogor, Banjarmasin, Kulonprogo, Gresik, Tegal, Wonogiri, Cilacap, Magelang, NTT, Kutai, NTB, Timika, Kab. Semarang, Lombok Timur, Lampung, dan Samarinda.
 
Cakupan wilayah ini masih terus bertambah seiring bertambahnya dukungan warga. “Kami tidak menyangka dukungan dari warga akan sebesar ini. Seperti halnya kampanye politik, kampanye kesehatan juga harus dilakukan melalui darat di banyak tempat. Menurut saya masih banyak ruang yang belum terjangkau, padahal isu pandemi ini sangat mendesak,” kata Koordinator Kampanye Japelidi Lawan Hoaks Covid-19 Lestari Nurhajati.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif