Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti, Medcom.id/Intan Yunelia.
Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti, Medcom.id/Intan Yunelia.

KPAI Khawatir Narkoba di Sekolah Sempat Memapar Siswa

Pendidikan narkoba
Intan Yunelia • 17 Januari 2019 21:32
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus gudang penyimpanan narkoba di sebuah sekolah di Jakarta Barat. Termasuk mengungkap, apakah dalam kasus tersebut sempat terjadi jual beli narkoba yang melibatkan siswa.
 
Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti meminta pihak kepolisian, agartidak hanya fokus pada kasus fisik gudang penyimpanan narkobanya saja. Namun juga menyelidiki apakah ketiga terduga pelaku juga melakukan jual beli narkoba di lingkungan sekolah yang melibatkan para siswa.
 
"Jika terjadi pengedaran di lingkungan sekolah yang menargetkan siswa, maka diperlukan tindaklanjut berupa rehabilitasi bagi para siswa," kata Retno di Jakarta, Kamis, 17 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KPAI juga mendorong Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk memeriksa pihak sekolah. Modus terduga pelaku semacam ini perlu diwaspadai dan tidak boleh terulang lagi, baik di sekolah yang bersangkutan maupun di institusi pendidikan lainnya.
 
Retnomeminta pihak Kepolisian, Media Massa dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk tidak membuka nama dan identitas sekolah agar para siswa, para guru dan sekolah sebagai institusi pendidikan tidak mengalami stigma negatif dari masyarakat.
 
Baca:Sekolah di Jakbar Jadi Gudang Narkoba
 
Untuk diketahui,Polsek Kembangan Jakarta Barat pada 15 Januari 2019 lalu menyita 355 gram sabu dan 7.910 butir dan psikotropika golongan IV serta obat-obatan daftar G dari sebuah lab sekolah. Dalam operasi kali ini, sedikitnya 7.910 butir narkoba disita.
 
Barang tersebut ditemukan sebuah laboratorium sebuah sekolah di Jakarta Barat. Terduga tersangka berinisial DL, AJ dan CP, kakak beradik yang mendesain tempat tersebut menjadi gudang penyimpanan sekaligus tempat tinggal.
 
Ketiganya merupakan karyawan dari sekolah tersebut. Status keduanya pegawai honorer yang sejak enam bulan terakhir tinggal di laboratorium sekolah. Merekamemanfaatkan salah satu ruangan yang disulap menjadi tempat tinggal sekaligus gudang penyimpanan narkoba.
 
Menurut pihak sekolah, DL dan CP menumpang tanpa izin."Hal ini akan menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan dan berpotensi mengancam anak-anak kita dari bahaya narkoba," tutup Retno.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif