Limbah Sapi Diolah Jadi Obat Tanah Tercemar
Kegiatan di laboratorium, saat mengembangkan limbah rumah potong sapi (Rumen) menjadi penetral tanah tercemar, humas ITS.
Jakarta: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tengah mengembangkan limbah rumah potong sapi (Rumen) menjadi "obat".   Hasil penelitian ini, dapat menjadi penetral tanah bekas pertambangan yang tercemar limbah beracun kategori B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Guru besar Departemen Teknik Lingkunggn ITS, Yulinah Trihadiningrum menjelaskan, limbah rumen adalah sisa makanan yang tersimpan di dalam bagian sistem pencernaan sapi. Khususnya di Surabaya, banyak rumah pemotongan hewan, namun rumennya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).


Dengan melihat fakta itu, Yulinah melakukan penelitian, agar Rumen tersebut bisa dimanfaatkan. "Bukan justru menimbulkan bau dan mengotori  lingkungan," kata Yulinah, dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018.

Menurut Yulinah, ternyata rumen yang telah dikompos memiliki kandungan Fosfor (P) dan Nitrogen (N2) yang cukup tinggi. Sehingga bila digabung dengan sampah kebun, akan sangat efektif untuk memberi makan bakteri.

"Efektif untuk menguraikan tanah pada daerah bekas pertambangan yang beracun," kata Yulinah.

Baca: Mengolah Limbah Sayuran Jadi Pakan Kelinci

Di dalam bakteri yang terkandung di tanah tersebut, akan menghasilkan biosurfaktan. Biosurfaktan merupakan senyawa yang bisa menggabungkan antara molekul air dengan molekul minyak.

Di samping itu, penggunaan Biosurfaktan yang merupakan senyawa ilmiah tak berbahaya, digunakan untuk lingkungan hidup.

"Selain itu, biaya untuk pembuatan biosurfaktan tersebut masih bisa dikatakan sangat murah," terangnya.

Yulinah menuturkan, bahwa Biosurfaktan sebenarnya secara komersial sudah ada, namun berbahan dasar kimia. Sehingga setelah pemakaian detergen komersial, menjadi kurang efektif digunakan. 

"Apalagi jika dibandingkan dengan rumen sapi, yang harganya jauh lebih murah dan efisien," ujar lulusan doktor bidang Manajemen Kualitas Air, University of Antwerp, Belgia ini.

Dalam penelitiannya Yulinah menggunakan sampel tanah tercemar dari pertambangan minyak di Desa Winocolo, Bojonegoro, Jawa Timur. Kandungan pencemar minyak bumi dalam tanah di kawasan tambang tersebut, hingga 10 kali lipat dari baku mutu yang ditetapkan.   

Aturan baku mutu tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 128 tahun 2003 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknik Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi Secara Biologis.

Yulinah membuka diri, jika pemerintah ingin menggunakan hasil risetnya di lokasi tanah pertambangan yang membutuhkan. Namun kondisi lokasi juga harus mendukung dengan aktivitas kontrol kelembaban, pH, aerasi, dan suhu pada kondisi optimum. 

"Jadi diperlukan prasarana yang memadai untuk menerapkan metode bioteknologi ini," pungkasnya



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id