Patung Soekarno duduk di taman perenungan yang memunculkan rumusan Pancasila di Kelurahan Rukun Lima, Ende, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Dok Medcom/Arthurio Oktavianus)
Patung Soekarno duduk di taman perenungan yang memunculkan rumusan Pancasila di Kelurahan Rukun Lima, Ende, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Dok Medcom/Arthurio Oktavianus)

Ende, Inspirasi Moderasi Beragama Bagi Guru dan Siswa Madrasah

Pendidikan kementerian agama pancasila kerukunan beragama toleransi beragama
Arga sumantri • 01 Desember 2020 21:07
Flores: Negara Indonesia adalah negara yang barasaskan Pancasila. Lima dasar bernegara itu lahir dan terinspirasi ketika Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, diasingkan saat penjajahan Belanda.
 
Maka dari itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Muhammad Ali Ramdhani berharap para guru dan siswa madrasah untuk mengambil nilai-nilai dan semangat harmoninasi yang telah terjalin secara baik. Dhani, sapaannya, menekankan, moderasi beragama adalah salah satu program unggulan yang dicanangkan Kemenag. Maka, negara tidak akan pernah tumbuh jika tanpa adanya harmonisasi.
 
"Negara tak akan mampu mengakselerasi pertumbuhannya tanpa terjadi harmonisasi," kata Dhani melalui siaran pers yang dikutip Selasa, 1 Desember 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat melakukan pembinaan para guru madrasah dan tenaga kependidikan di MAN Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Dhani menjelaskan, rancangan dan lahirnya Pancasila tidak lepas dari Ende. Budaya yang ada di Ende dan nilai-nilai Pancasila dapat menjadi inpirasi para guru dan siswa di Indonesia.
 
"Setiap orang yang saya tanya tentang moderasi beragama, maka gaung jawaban yang saya peroleh selalu sama, yakni datanglah ke Ende, karena di sini lahir konsep Pancasila yang mempersatukan kita semua," ujarnya.
 
Baca: Ende, Soekarno dan Pancasila
 
Kepada para siswa madrasah aliyah kejuruan, Dhani berharap para siswa madrasah mampu mengimplementasikan nilai kepemimpinan sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Contoh yang implementasikan Rasul terangkum dalam istilah 'FAST', yakni fatonah, amanah, sidik dan tabligh.
 
Dhani juga mengingatkan tentang esensi nilai kepribadian seorang pemimpin yang terangkum dalam akronim kata 'Fast' tadi dalam kepribadian seorang pemimpin. "Tolong diingat betul, ketika Anda menjadi seorang pemimpin, bahwa pemimpin sejatinya adalah dia yang melayani ummat,pemimpin adalah orang yang cepat dalam mengubah sebuah organisasi," ungkap Guru Besar UIN Bandung itu.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif