Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani
Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani

Dunia Usaha Perlu Duduk Bareng Susun Cetak Biru Pendidikan

Pendidikan Pendidikan Tinggi Cetak Biru Pendidikan
Intan Yunelia • 26 Desember 2019 16:58
Jakarta: Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Jamal Wiwoho mengusulkan dalam cetak biru (blue print) pendidikan tak hanya harus melibatkan akademisi dan pakar pendidikan, namun perlu juga menekankan keterlibatan dunia usaha dalam mendukung kurikulum pendidikan tinggi. Hal ini penting guna sinkronisasi antara pendidikan dan industri.
 
"Dari forum rektor kemudian bagaimana reorientasi itu kemudian didekatkan pada Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Karena itu mereka ya harus diajak duduk bersama untuk mendesain sebuah konsep kurikulum dan cetak biru yang bisa menjawab tantangan zaman," kata Jamal Wiwoho saat dihubungi Medcom.id, Kamis, 26 Desember 2019.
 
Menurut Jamal, perumusan kurikulum tidak bisa hanya melibatkan sivitas akademika tanpa pelibatan dunia usaha. Industri perlu memberi masukan kompetensi apa yang mereka butuhkan dari lulusan perguruan tinggi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Misalnya saja di negara Eropa yang menyusun kurikulum salah satunya adalah wiraswasta yang berhasil di dunia industri, sehingga tidak lagi lulusan perguruan tinggi itu gagap manakala terjun di industri," terang Jamal.
 
Sebelumnya, Jamal Wiwoho menyambut positif langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bakal membuat cetak biru (blue print) pendidikan Indonesia. Salah satu usulan Jamal terkait tata kelola kualifikasi dosen untuk pendidikan vokasi agar masuk di dalamnya.
 
"Misalnya untuk pendidikan keahlian itu tidak harus master tapi bisa saja itu S1 tetap kalau dulu digunakan namanya Rencana Pembelajaran Lampau (RPL)," kata Jamal saat dihubungi Medcom.id, Kamis, 26 Desember 2019.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif