Jebolan OSC tak Sekadar Belajar di Bangku Kuliah
Ricky Yantho, mahasiswa UMN jebolan OSC 2016, Medcom.id - Husen
Jakarta: Beasiswa online scholarship competition (OSC) yang diselenggarakan medcom.id bersama Avitex Cat Tembok memasuki tahun ketiga. Penerima beasiswa OSC sebelumnya pun kini tengah mengenyam pendidikan tinggi di kampus-kampus favorit pilihan mereka.

Ricky Yantho salah satunya. Ricky merupakan penerima beasiswa OSC 2016. Ia mulai masuk kuliah pada September 2017 di jurusan Akuntansi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). 


Baginya, OSC mempermudah jalan dia untuk meraih tangga kesuksesan. Berasal dari keluarga dengan ekonomi yang kurang mampu, pemuda asal Serpong itu bersyukur melanjutkan pendidikan di kampus favorit dengan tidak membayar biaya sepeser pun. Sebab beasiswa OSC membebaskan penerima bebas dari uang pangkal dan biaya kuliah selama 4 tahun atau 8 semester berturut-turut. "OSC memberi kesempatan bagi siswa yang dalam hal dana kurang. Selain itu, OSC juga menjangkau daerah-daerah di Indonesia," ungkap Ricky saat berbincang dengan Medcom.id.

Ricky juga bilang, OSC memberi kemudahan kepada para pendaftar karena seluruh prosesnya dilakukan secara daring. Sementara beasiswa lain, prosesnya rumit sehingga harus bolak-balik. Hal itu yang jadi alasan Ricky untuk fokus menggenggam beasiswa OSC.

Proses OSC sendiri terbagi ke dalam beberapa tahap. Pertama, adalah tahap pendaftaran. Selanjutnya tes online secara serentak. Peserta yang lolos tes online akan mengikuti proses seleksi berkas/data diri. Terakhir, mereka akan tes luring secara tertulis dan atau wawancara.

Sebagai penerima beasiswa OSC, Ricky ogah menyia-nyiakan. Selain belajar secara tekun untuk meraih indeks prestasi (IP) yang maksimal, Ricky juga aktif berorganisasi dan mengikuti unit kegiatan kemahasiswaan bulu tangkis.

Organisasi Ricky di tingkat kampus adalah Rumah Pintar (Rumpin). Organisasi itu bertujuan untuk membangun desa tertinggal dalam hal ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan. Ricky kebagian untuk meningkatkan kesejahteraan dan literasi baca masyarakat Desa Kranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan.


(Suasana di depan lokasi seleksi peserta OSC 2017 di Kuningan City Jakarta, Senin, 18 Desember 2017, Medcom.id - Husen Miftahudin)

"Di sana kemarin kita mengajar Bahasa Inggris yang menyasar ke SD. Nanti kita juga akan bikin perpustakaan di sana untuk meningkatkan minat baca masyarakat sekitar. Untuk ekonominya, kita membantu membuat desain produk keripik mereka. Mereka kan banyak pelaku usaha kecil keripik, nah kita minta anak Desain dan Komunikasi Visual (DKV UMN) untuk membantu mendesain kemasan keripiknya," tutur dia.

Ricky yang kini duduk di semester satu senang betul ikut terjun ke Desa Kranggan. Sebab, akunya, organisasi seperti itu mampu menambah pengalaman, ilmu, dan belajar jiwa sosial yang bisa ia praktikan nantinya dalam kehidupan sehari-hari.

Benar saja, pengalamannya ikut berorganisasi meningkatkan semangatnya untuk meraih cita-cita Ricky membuka tempat les. "Saya meihat karena masih banyak yang kesulitan dalam belajar, dari situ saya ingin bantu. Karena saya pikir, semua orang bisa pintar, cuma masalahnya orang tersebut niat atau tidak, itu saja," tegas Ricky.

Novenia Eka Warestika, penerima beasiswa OSC tahun 2015 juga setali tiga uang dengan Ricky. Menurut dia, penerima beasiswa OSC jangan hanya fokus belajar, namun juga harus aktif berorganisasi. Karena pengalaman dalam berorganisasi mampu meningkatkan karakter diri, baik secara etika, moral ataupun kepemimpinan.

"Jebolan atau penerima beasiswa seharusnya jangan cuma belajar untuk mempertahankan IPK bagus. Itu penting, tapi belajar yang tekun juga harus dibarengi dengan ikuti organisasi dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)," pungkas mahasiswi semester III Jurusan Sistem Informasi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti.



(RRN)