Dosen Sains Atmosfer di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Armi Susandi saat memperkenalkan alat pendeteksi badai di Festival Janadriyah, dokumantasi Armi Suandi.
Dosen Sains Atmosfer di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Armi Susandi saat memperkenalkan alat pendeteksi badai di Festival Janadriyah, dokumantasi Armi Suandi.

ITB Promosikan Alat Deteksi Badai ke Arab Saudi

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 16 Januari 2019 17:20
Jakarta: Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan alat deteksi badai pada Festival Janadriyah ke-33 di Riyadh, Arab Saudi. Alat ini diberi nama Hidrometeorological Hazard Early Warning System (H-HEWS).
 
Dosen Sains Atmosfer di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Armi Susandi menyebutkan, bencana badai yang kerap terjadi di Arab Saudi belakangan ini menimbulkan banyak kerugian materi dan korban yang cukup besar. Alat ini bisa mendeteksi dini datangnya badai, sehingga potensi kerugian dan korban bisa diminimalisasi.
 
Sistem ini dapat memberikan informasi prediksi badai pasir, gelombang panas, hujan lebat dan cuaca ekstrim lainnya. "Sehingga tingkat keakuratannya mencapai 85 persen," kata Armi di Jakarta, Rabu, 16 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alat pendeteksi ini bisa dioperasikan lewat website (komputer). Namun, untuk penggunaan di sistem android atauiOS masih dalam proses pengembangan.
 
"Sistem tersebut bisa memprediksi hingga tiga hari ke depan per tiga jam," ujar Armi.
 
Baca:ITB Siapkan Program Rekonstruksi di Daerah Terdampak Tsunami
 
Melalui aplikasi ini, ITB membuka peluang kerja sama dengan Arab Saudi dalam penerapanannya. Armi menyebutkan aplikasi ini masih dalam proses paten HaKI (Hak atas Kekayaan Intelktual).
 
"Sistem ini dirancang untuk digabung dengan data lainnya. Misalnya data kependudukan, data rumah sakit, data sungai, data rumah, jalan, dan lainnya. Ini produk ITB dan kita membangunnya hanya dua minggu sebelum festival ini," paparnya.
 
Aplikasi tersebut dapat memprediksi badai dengan menggunakan satelit. Namun nanti akan dikombinasikan dengan data lapangan setelah kerja sama terjalin. Menurutnya, aplikasi tersebut memiliki tingkat keakurat sangat baik karena daerah Arab Saudi tidak banyak memiliki gunung dan lembah.
 
"Prediksi di wilayah padang pasir itu lebih gampang daripada di wilayah kepulauan. Bahkan alat itu pun bisa dikembangkan dengan sampai akurasi per kilometer. Namun perlu server yang lebih besar. Tergantung nanti permintaan dari Arab Saudi," pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif