Seminar Nasional and Call for Paper Komunikasi, Literasi, Media dan Budaya. Foto: Medcom.id/Syaikhul Hadi
Seminar Nasional and Call for Paper Komunikasi, Literasi, Media dan Budaya. Foto: Medcom.id/Syaikhul Hadi

Peran Media Massa Kian Strategis Sebagai Pengendali Hoaks

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Syaikhul Hadi • 28 November 2019 13:45
Surabaya:Direktur Pemberitaan Medcom.id, Abdul Kohar menjadi pemateri dalam Seminar Nasional and Call for Paper Komunikasi, Literasi, Media dan Budaya di Graha Wiyata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Dalam materinya, Kohar banyak membahas tentang tantangan dan perkembangan media massa di era tsunami informasi.
 
Kohar dalam paparannya mengatakan, bahwa masyarakat saat ini tengah menghadapi tsunami informasi. Informasi tidak lagi hanya bersumber dari media massa, namun juga media sosial.
 
"Media sosial sekarang ini seakan akan menghipnotis seseorang. Untuk itu, satu-satunya pengendali media sosial adalah media mainstream," kata Kohar di Untag Surabaya, Kamis, 28 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Media mainstream, kata Kohar, harus mengambil peran dalam mengendalikan informasi hoaks. Salah satunya dengan menjadi verifikator. "Ketika orang-orang bigung mana yang benar atau tidak, maka tugas media adalah menjadi penengah untuk mengecek fakta (fact checking)," tambahnya.
 
Fungsi media, lanjutnya, akan menjaga kewarasan publik melalui verifikasi, lebih independen, dan berjarak dengan politik praktis. Sehingga kepercayaan publik akan terbangun dan masyarakat akan lebih berhati-hati dalam memanfaatkan media sosial.
 
Seminar yang bertemakan "Mendefinisikan Kembali Identitas Budaya Indonesia" ini juga mendatangkan beberapa narasumber dari sejumlah lembaga. Di antaranya Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom), Ketua Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Mohammad Sulhan, Guru Besar Fisip Untag Surabaya, Prof Dr. Sam Abede Pareno, dan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Dr. Hilmar Farid.
 
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Seminar, D. Jupriono mengungkapkan, tujuan diselenggarakannya seminar nasional tentang Komunikasi, Literasi, Media dan Budaya ini salah satunya untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa maupun khalayak luas yang berkaitan dengan kondisi negara saat ini.
 
Menurut Jupriono, keadaan negara saat ini sedang genting, terutama dalam hal menerima perbedaan. "Tidak bisa menghargai pendapat orang lain. Apalagi dalam isu Sara. Semua menjadi kacau. Saya mengamati sejak sepuluh tahun terakhir, tepatnya saat Pemilukada Gubernur Ahok. Sampai sekarang itu selalu terbawa. Dan kita tidak bisa menghormati perbedaan. Terutama masalah agama, suku, beda pilihan politik dan lainnya," ujar Jupriono.
 
Pria yang juga Dosen Ilmu Komunikasi Untag Surabaya ini melanjutkan, orang-orang komunikasi berpendapat, bahwa konflik itu terjadi dikarenakan adanya miskomunikasi. Meski demikian pada perkembangannya, konflik tidak hanya terjadi pada komunikasi saja, melainkan media sosial yang sedang berkembang.
 
"Memang, media sosial itu bisa kita jadikan sarana komunikasi, mengumpulkan teman-teman lama, dan sebagainya. Tapi perlu diingat juga banyak konflik berdarah, perseteruan etnis, budaya, agama, dan lain-lain hanya gara-gara media sosial yang belum tentu benar adanya," tegasnya.
 
Sehingga dalam seminar nasional ini, pihaknya ingin mengenalkan, menggencarkan dari aspek positif media sosial. Yakni dengan cara mengenalkan literasi media. "Nah, peran media konvensional, media mainstream termasuk salah satunya Medcom.id ini sangat dibutuhkan masyarakat. Karena media-media seperti ini lebih mengedepankan Fact checking (mengecek kebenarannya)," tandasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif