Kualitas Pendidikan Timpang, Integritas Negara Terancam

Husen Miftahudin 27 Maret 2018 12:39 WIB
pendidikan
Kualitas Pendidikan Timpang, Integritas Negara Terancam
Mendikbud Muhadjir Effendy menghadiri acara pendeklarasian pendidikan karakter untuk siswa SD di Banyumas, Metro TV
Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyatakan fokus pendidikan pemerintah adalah soal pemerataan. Sebab banyak anak-anak daerah belum mengecap pendidikan yang setara dengan anak-anak yang ada di kota besar.

"Meski sekarang sudah ada sebagian sekolah yang telah mengadopsi teknologi, namun kita punya problem untuk kepentingan kebijakan pendidikan kita di tingkat nasional. Jadi fokus kita yaitu bagaimana mempercepat yang tertinggal ini agar disparitas dan ketimpangan pendidikannya, baik kualitas maupun akses, tidak terlalu lebar," ujar Muhadjir di SMA Pangudi Luhur 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 20 Maret 2018.


Menurut dia, bila akses dan kualitas pendidikan antardaerah di Indonesia semakin timpang, maka integritas negara bakal terancam. Pasalnya, pendidikan merupakan salah satu ujung tombak perbaikan ekonomi.

Lebih spesifik Muhadjir bakal menuntaskan permasalahan akses dan kualitas pendidikan yang ada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Karena bagaimanapun, ungkapnya, setiap anak Indonesia berhak untuk mendapatkan layanan dan fasilitas pendidikan yang setara dengan anak-anak lainnya.

"Di negara bagian Sabah, Malaysia, itu ada 52.000 anak-anak TKI yang bekerja di perkebunan sawit belum mendapatkan akses dan layanan pendidikan. Sekarang baru kita layani 24.000 (pendidikan anak-anak) yang kita rintis dengan Committee Learning Center (CLC), itu pun hanya taraf SMP dan baru di Sabah saja," beber Muhadjir.

Hal itu yang membuat Muhadjir untuk tidak membuat fokus utama pendidikan Indonesia pada penguasaan teknologi dan digital. Fokus Kemendikbud adalah mempercepat anak-anak Indonesia untuk mendapatkan akses, layanan, dan kaualitas pendidikan yang sama.

"Dia kan harus dipercepat supaya tidak semakin tertinggal, karena saya khawatir anak-anak yang menguasai teknologi peningkatannya seperti deret ukur dan semakin cepat. Sementara yang tertinggal ini semakin tertinggal sehingga akhirnya tidak bisa mengimbangi," tegasnya.

Maka itu Muhadjir fokus untuk mengejar permasalahan pemerataan pendidikan dibanding menggenjot pelajar Indonesia menguasai teknologi. "Karena untuk mengejar ini harus dua kali kecepatannya, inilah yang harus kita tangani bersama karena tidak mungkin hanya pemerintah yang menangani," pungkas Muhadjir.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id