Ilustrasi. Foto:  MI Arya Manggala
Ilustrasi. Foto: MI Arya Manggala

Sistem Baru Pengganti UN Bakal Berbasis Komputer

Pendidikan Ujian Nasional Kebijakan pendidikan
Muhammad Syahrul Ramadhan • 11 Desember 2019 15:50
Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memastikan Ujian Nasional (UN) pada 2021 nanti akan berganti menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Sama seperti UN, nantinya asesmen ini akan dilaksanakan berbasis komputer.
 
"Secara teknis ini detailnya kami sedang pengembangan asesmen. Tapi sudah pasti akan dilaksanakan melalui komputer. Itu sudah pasti. Enggak mungkin kita enggak melaksanakan. Apapun dalam standar nasional itu harus computer based," kata Nadiem dalan sesi jumpa pers di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.
 
Sistem penilaian pengganti UN ini, ungkap Nadiem, menjadi pekerjaan rumah bagi Kemendikbud untuk memenuhi sarana prasarana di sekolah yang belum mendukung model asesmen yang baru ini. Apalagi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sampai sekarang belum semua bisa mendapatkan akses di masing-masing sekolah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tapi Nadiem optimistis, persiapan ini bisa rampung setahun ke depan. "PR kita selama tahun ke depan memastikan semua murid itu bisa melaksanakan (asesmen pengganti UN). Karena kan masih ada beberapa daerah yang belum bisa. Itu harus kita tuntaskan tahun ini," terangnya.
 
Nadiem menyebut, formatnya sama seperti asesmen yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pilihan ganda. Ia pun memastikan tidak ada soal yang berupa hafalan.
 
Nantinya, Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter akan dilakukan secara bersamaan. "Iya, dilaksanakannya saat yang sama. Kalau computer based format yang paling baik memang pilihan ganda, tapi bersifat HOTS (Higher Order Thinking Skills). Tapi kuncinya apa yang berubah ini sudah tidak jadi beban stres," kata menteri 35 tahun ini.
 
Nantinya asesmen dan survei ini dilaksanakan di pertengahan jenjang. Tujuannya jelas, agar sekolah dan guru dapat melakukan perbaikan.
 
"Artinya asesmen harusnya formatif. Sudah lama kita lupa itu ya. Asesmen sebenarnya bukan hanya menerangkan ini baik ini buruk. Sebenarnya ada satu lagi fungsi yang lebih penting, yakni untuk memberikan umpan balik. Oh jadi yang harus saya perbaiki ini, kita kembali ke esensinya, formatif asesmen," jelasnya.
 
Sebelumnya, Mendikbud, Nadiem Makarim resmi menetapkan sistem asesmen baru menggantikan Ujian Nasional (UN). Sistem asesmen ini mulai diterapkan di 2021.
 
Kebijakan ini sekaligus menegaskan bahwa UN 2020 akan menjadi pelaksanaan UN terakhir. "Penyelenggaraan UN tahun 2021, akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Terdiri atas kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter," kata Nadiem pada peluncuran Empat Pokok Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar”, di Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.
 
Pelaksanaan ujian tersebut akan dilakukan oleh siswa yang berada di tengah jenjang sekolah (misalnya kelas 4, 8, 11), sehingga dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Hasil ujian ini tidak digunakan untuk basis seleksi siswa ke jenjang selanjutnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif