Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.

Beragam Modus Kekerasan Seksual di Sekolah Perlu Diwaspadai

Pendidikan kekerasan
Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 Juli 2019 03:00
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap modus yang digunakan pelaku kekerasan seksual pada anak sekolah untuk memuluskan aksi bejatnya. Pada semester I 2019 KPAI sudah mencatat 13 kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum pendidik.
 
Beragam motif yang digunakan oleh pelaku mulai dari yang bermodal besar sampai yang hanya bermodalkan bujuk rayu. Komisioner KPAI Retno Listyatri menyebut pelaku mengajak korban menonton film berkonten pornografi. Selain itu juga memberi uang sebesra Rp2.000 kepada korban asalkan mau dipeluk dan dicium.
 
"Ada juga pelaku yang menjanjikan nilai bagus dan memberikan uang Rp5.000. Ada pelaku yang memberikan korban handphone, baju uang jajan, modus pelaku mengancam memberi nilai jelek jika menolak atau melapor kepada siapapun berikutnya pelaku mnecari korban kemudian dibujuk rayu melakukan persetubuhan," beber Retno dalam diskusi 'PR Pendidikan di Hari Anak' Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Retno juga menolak tegas segala dalih pelaku melakukan kekerasan seksual atas dasar suka sama suka. Padahal dia bilang berhubungan badan dengan anak di bawah 18 tahun merupakan tindak kejahatan.
 
"Semuanya termasuk kekerasan seksual dan masuk ranah pidana,” ujar dia.
 
KPAI mencatat pada semester awal 2019 sebanyak 13 kasus kekerasan seksual terjadi. Retno mengatakan ada dari hasil pengaduan pelaku adalah wali kelas, guru agama, guru olahraga, guru seni budaya, guru IPS, guru komputer dan kepala sekolah.
 
"Tertinggi guru olahraga dan guru agama," ucap dia.
 
Retno menyesalkan perbuatan oknum guru dan kepala sekolah tersebut. Mengingat sekolah seharusnya aman dan ramah anak apalagi ada Undang-Undang Perlindungan Anak.
 
"Ini ironis, seharusnya guru pelindung anak-anak di sekolah dan Undang-Undang Perlindungan Anak memerintahkan melindungi anak dari bentuk kekerasan apapun. Tapi justru guru dan kepala sekolah ini melakukan tindak kekerasan terhadap anak," jelas dia.
 

(SCI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif