Ilustrasi. Foto:  MI/Ramdani
Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani

Tinggal di Gubuk Reyot, Dua Anak Terpaksa Putus Sekolah

Pendidikan penduduk miskin
Antara • 11 Oktober 2019 19:51
Pontianak: Miris, satu keluarga tinggal di gubuk reyot, beralaskan tanah dan berdindingkan seng bekas kandang ayam di Gang Kelompok Tani, Desa Mega Timur, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.
 
Lena, 39 tahun dan suaminya dengan empat orang anaknya, dua di antaranya terpaksa putus sekolah. Anak pertama Lena seharusnya duduk di kelas delapan SMP.
 
Namun kemiskinan Lena juga memaksa si sulung putus sekolah karena tidak ada biaya. "Yang tertua kelas delapan SMP dan terpaksa putus sekolah karena tidak memiliki biaya. Sedangkan yang paling kecil berusia satu tahun empat bulan," ungkap Guru SMPN 23 Kabupaten Kubu Raya, Puji di Mega Timur, Kubu Raya, Kalbar, Jumat, 11 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut penuturan Puji, kehidupan keluarga ibu Lena memang sangat memprihatinkan sehingga perlu mendapat perhatian. "Terutama pada tempat tinggal yang sangat tidak layak," kata Puji.
 
Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Pemprov Kalbar memberikan bantuan berupa perbaikan rumah layak huni. "Semoga dengan diberitakan oleh teman-teman media, maka Pemkab Kubu Raya dan Pemprov Kalbar menjadi mengetahui kalau ternyata ada warganya yang hidup dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan bantuan," ujarnya.
 
Sementara itu, Lena menyatakan, suaminya hanya bekerja sebagai buruh lepas (serabutan) dengan penghasilan yang tidak tetap. Lena, suami dan empat orang anaknya tinggal di rumah gubuk berukuran tiga kali tiga meter.
 
"Kami tinggal di sini baru dua bulan, dan tanah yang kami dirikan gubuk ini juga punya warga yang prihatin dengan kondisi kami, karena kalau ngontrak rumah, kami tidak mampu," ungkapnya.
 
Ia menambahkan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya mencari sayur pakis yang diambilnya di hutan sekitar rumahnya dengan penghasilan sebesar Rp10 ribu/hari. Sementara suaminya bekerja sebagai buruh lepas.
 
"Karena tidak memiliki biaya, dua anaknya terpaksa putus sekolah, satu sekolah di tingkat sekolah dasar dan yang tertua tingkat SMP," katanya.
 
Dia berharap, pemerintah memperhatikan mereka dan keempat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah sehingga bisa merubah nasib keluarganya agar lebih baik lagi ke depan.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif