Menristekdikti Pertimbangkan Penerjemah Jurnal di Kampus
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. (Foto: Antara/M Agung Rajasa).
Jakarta: Ilmuwan Indonesia di luar negeri menyarankan setiap kampus memiliki penerjemah bahasa jurnal ilmiah. Hal tersebut untuk meringankan beban dosen dan profesor sehingga mereka tetap menulis jurnal ilmiah dalam Bahasa Indonesia.

Melansir Antara, Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) Profesor Deden Rukmana menyebut penerjemah membantu dosen dan profesor untuk menerjemahkan jurnal ilmiah mereka. Kondisi itu juga mendukung Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.


"Mungkin profesor yang tua-tua komplain, tetapi mendorong dosen yang muda-muda untuk terus menulis dan berkarya," ujar Deden.

(Baca juga: Penghentian Tunjangan Profesor Akhir 2019)

Dalam menyusun karya ilmiah, Deden menyarankan agar dosen-dosen di Tanah Air melakukan kolaborasi dengan dosen kampus lain dan luar negeri sehingga memudahkan mereka menyusun karya ilmiah.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mempertimbangkan adanya penerjemah membantu para dosen dan profesor menerjemahkan jurnal ilmiah dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.

"Masalah jurnal mungkin itu kelemahan kita, makanya perlu dibentuk tim yang ada penerjemahnya di kampus," paparnya.

Di Jepang, misalnya, banyak profesor yang tidak mahir Bahasa Inggris namun publikasi internasionalnya bagus. Hal itu lantaran adanya tim penerjemahnya di setiap kampus.

(Baca juga: Profesor Bisa Berkolaborasi dengan Mahasiswa Mempublikasi Jurnal Ilmiah)

Dalam Permenristekdikti 20/2017 disebutkan tunjangan kehormatan profesor akan diberikan jika memiliki paling sedikit satu jurnal internasional bereputasi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Jika tak memenuhi persyaratan, maka tunjangan tersebut akan dihentikan sementara.

Berdasarkan aplikasi Science and Technology Index (SINTA) Ristekdikti selama tiga tahun terakhir, per akhir 2017 baru ada 1.551 orang profesor yang publikasinya memenuhi syarat sesuai dengan Permenristekdikti 20/2017.

Padahal, jumlah profesor yang sudah mendaftar pada aplikasi SINTA sebanyak 4.200 orang. Sedangkan untuk lektor kepala, dari 17.133 orang yang mendaftar SINTA, hanya 2.517 orang yang lolos memenuhi syarat publikasi.

Namun peraturan tersebut kemudian direvisi dan pemberlakuannya baru akan dimulai pada November 2019.



(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id