Sebanyak 80% lulusan SMK NU Banat sudah diserap di dunia industri, bahkan menjadi desainer dan memiliki brand sendiri, MI/Sumaryanto Bronto.
Sebanyak 80% lulusan SMK NU Banat sudah diserap di dunia industri, bahkan menjadi desainer dan memiliki brand sendiri, MI/Sumaryanto Bronto.

146 Kurikulum SMK Sudah Sinkron dengan Industri

Pendidikan Pendidikan Vokasi
Intan Yunelia • 30 April 2019 13:31
Jakarta: Direktur Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) M. Bakrun mengatakan, saat ini 146 kurikulum SMK telah disinkronisasi. Hal itu untuk menyesuaikan dengan kebutuhan kerja di dunia industri.
 
“Jadi sudah 146 kurikulum itu sudah kita sinkronkan dengan industri yang ada,” kata Bakrun saat diskusi 'Pengembangan SDM Pendidikan' di Gedung A Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin 29 April 2019.
 
Kurikulum-kurikulum tersebut belum semua diterapkan di seluruh SMK. Penerapan kurikulum fleksibel sesuai dengan permintaan industri dan potensi keunggulan di daerah masing-masing.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Maka kita coba kembangkan adanya sekolah-sekolah sesuai dengan permintaan dari industri itu sendiri. Ada sekolah Yamaha, Honda, Alfamart, Transmart itu yang kita kembangkan sebenarnya sekarang,” ujar Bakrun.
 
Baca:Cetak Pengangguran Sejumlah Jurusan Diminta Kurangi Kelas
 
Sinkronisasi ini sebagai salah satu upaya untuk mengurangi tingginya angka pengangguran dari lulusan SMK. Banyak dari lulusan SMK tak terserap di dunia kerja, salah satunya karena skill dan kemampuan tidak sesuai dengan kebutuhan industri.
 
“Ini sebagai salah satu jawaban, bahwa kita selalu dikritik, pertama soal pengangguran, kedua tidak link and match dengan kebutuhan industri. Itu yang kita coba sesuaikan,” tuturnya.
 
Sementara itu, revitalisasi SMK ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
 
“Di mana dalam inpres itu melingkupi penyelarasan dan pengembangan kurikulum, pengembangan kurikulum, pemenuhan dan peningkatan guru dan tenaga pendidik, kerja sama industri, sertifikasi dan pembentukan kelompok kerja untuk pengembangan SDM," terangnya.
 
Baca:Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur
 
Untuk diketahui, akhir tahun lalu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka menurut daerah sebesar 5,34% pada Agustus 2018, turun dibandingkan 2017 yakni sebesar 5,50% pada bulan yang sama. Tingkat pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan, masih berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
 
BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka tertinggi menurut pendidikan, berasal dari jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebesar 11,24 persen. Tingkat pengangguran terendah sebesar 2,43 persen terdapat pada penduduk berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif