Ilustrasi. Foto: Antara/Irfan Anshori
Ilustrasi. Foto: Antara/Irfan Anshori

Sosiolog UI: Pancasila Jangan Sekadar Hafalan

Pendidikan hari kesaktian pancasila Pendidikan Tinggi
Antara • 01 Oktober 2020 21:52
Jakarta: Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam Budidarmawan Prasodjo meminta semua pihak agar jangan menjadikan Pancasila hanya sebatas butir-butir hafalan. Namun, harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
 
"Sekarang kita masih punya Pancasila, tapi permasalahannya adalah implementasi dari Pancasila itu sendiri yang perlu dipikirkan bersama," kata Imam saat dihubungi di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2020.
 
Bertepatan dengan momentum Hari Kesaktian Pancasila, Imam mengajak semua pihak terkait agar berusaha memikirkan bagaimana penerapan butir-butir Pancasila lebih intensif di tengah masyarakat. Hal itu sejatinya bisa dilakukan dalam setiap rapat kabinet, setiap butir-butir Pancasila menjadi acuan dalam menyusun rencana strategis atau program kerja pemerintah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebagai contoh, kata dia, sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Secara hafalan, mungkin hampir semua orang bisa mengucapkannya, namun tidak cukup hanya sampai disitu. Artinya, makna dari sila kelima itu harus bisa selaras dengan program yang akan dibuat.
 
"Jadi bagaimana program-program yang ada menjadi penjabaran dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," kata anggota Komisi Pemilihan Umum periode 1999 hingga 2004 tersebut.
 
Baca:Menjaga Pancasila, Salah Satu Kontribusi Santri untuk Indonesia
 
Pancasila harus dituangkan dalam rencana strategis maupun program pemerintah. Sebab, jika tidak seperti itu, maka Pancasila hanya sebatas butir-butir hafalan.
 
Selain itu, ia mengatakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang bertepatan dengan pandemi virus korona (covid-19) hendaknya dapat menjadi momentum dalam sejarah seluruh umat manusia untuk menghadapi tantangan agar saling bersinergi satu dengan lainnya.
 
Sinergi tersebut dapat dilakukan di berbagai bidang. Sebab, covid-19 berdampak multidimensi, baik itu dimensi kesehatan, ekonomi, sosial dan budaya, sehingga dibutuhkan tokoh-tokoh yang menjadi inisiator dalam kehidupan masyarakat.
 
"Jadi harus bergerak melakukan jejaring dan simpul-simpulnya jangan hanya terpaku pada simpul birokrasi pemerintah saja," ujarnya.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif