Ekosistem Pendidikan di Indonesia Dinilai tidak Pancasilais
Ilustrasi-- Sejumlah siswa mengikuti acara Pesta Pendidikan 2018 di Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. (Foto: ANTARA/Abriawan Abhe)
Jakarta: Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji menilai bibit radikalisme bukan tidak mungkin tumbuh di lingkungan sekolah atau kampus. Sistem pendidikan yang ada saat ini bisa dikatakan berhasil namun di sisi lain juga gagal.

Survei yang dilakukan terhadap generasi Z atau mereka yang lahir setelah 1995 menunjukkan lebih dari 30 persen siswa pelajar menyatakan oke untuk berjihad boleh. Bahkan membunuh orang yang beda pandangan pun diperbolehkan.


"Dan guru atau dosen mendorong hal itu. 60 persen guru bahkan mengatakan tidak mau jika ada rumah ibadah lain yang dibangun di lingkungan mereka dan sebetulnya ekosistem pendidikan kita sendiri tidak pancasilais," ungkapnya dalam News Story Insight (NSI), Rabu, 14 Mei 2018.

Menurut Indra, kunci memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia bukan hanya dari sisi materi atau kurikulumnya. Melainkan, juga bagaimana proses alih informasi dari guru ke siswa. 

Usulan perlu adanya kurikulum radikalisme di sekolah dinilai tidak penting. Terpenting, kata Indra, bagaimana implementasi dari pengajaran yang dilakukan oleh guru kepada siswa dalam hal menanamkan pemahaman bahwa menjadi berbeda bukanlah masalah.

"Dan kita memang agak ketinggalan dari negara lain dalam hal itu," katanya.

Meski begitu Indra menyebut metodehigher order thinking skills(HOTS) dalam ujian nasional merupakan salah satu bentuk mendorong anak untuk cerdas.

Cerdas bukan arti jawaban ujian nasional mendapatkan skor 10. Namun siswa bertanggung jawab dalam membuat keputusan tanpa dipengaruhi orang lain yang tingkat nalarnya lebih tinggi.

"Selama banyak keputusan diambil secara ekstrinsik atau banyak pengaruh dari orang lain. Itu menunjukkan bahwa tingkat 'kecerdasan' mereka rendah," jelas dia.





(MEL)