Menjawab Tantangan Presiden, UBM Buka Prodi Bisnis Digital
Medcom,id/Citra Larasati.
Tangerang: Menjawab tantangan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), untuk penyediaan fasilitas akademik di era revolusi industri 4.0. Universitas Bunda Mulia (UBM) membuka program studi baru, Bisnis Digital. 

Prodi baru ini, dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan tingginya peluang kerja di industri digital yang semakin maju di era disrupsi teknologi.   “Kami ingin menjawab tantangan Bapak Presiden yang mengatakan, belum adanya  kurikulum yang membahas bisnis digital. Prodi baru kami, adalah jawaban terhadap tantangan tersebut,” kata Wakil Pembantu Rektor UBM Kandi Sofia di kampus UBM Alam Sutera, Selasa 27 November 2018. 


Dia memastikan, prodi yang baru diperkenalkan di dua kampus Ancol dan Alam Sutera itu, sudah mengantongi izin resmi Kemenristekdikti dan akan berjalan pada tahun akademik 2019 mendatang. 

"Izin prodi baru dari Kementerian Ristekdikti sudah terbit Oktober, Proposalnya bulan Juli. Jadi untuk calon mahasiswa baru bisa berkuliah dengan prodi ini di tahun akademik 2019.  Lulusan program studi ini akan mengantongi gelar S.BD," kata dia. 

Menurut dia, ada perubahan luar biasa dalam bidang industri digital saat ini, hal itu terlihat dari perubahan pola masyarakat yang semakin dimudahkan, dengan adanya tren baru perkembangan digital. 

“Era digital ini merupakan shiftingekonomi dari bisnis offlinemenjadi bisnis onlineini bukan pelemahan ekonomi, tapi ini sebuah shiftingbisnis. Dengan teknologi kita bisa mengalahkan bisnis-bisnis dengan aset besar yang sebelumnya kita tak pernah menyangka,” ucapnya. 

Baca: Universitas Terancam Mati Tanpa Inovasi dan Riset

Dengan prodi Bisnis Digital ini, lanjutnya, para lulusan UBM Bisni Digital, tak hanya menjadi pekerja di bidang kreatif saja.   “Didukung kurikulum yang kami miliki, lulusan kami lebih mengedepankan karakter menjadi entreprenuer. Membuka lapangan kerja, walaupun sebenarnya semua industri saat ini juga mengembangkan lini bisnisnya ke digital, maka kebutuhan akan tenaga kerja bidang ini amat terbuka,” kata dia.

Program studi ini lanjut Kandi, akan memperdalam lebih banyak mengenai bisnis digital. Mulai dari tren, pangsa pasar, sampai pembuatan startupuntuk memulai bisnis tersebut. 

Sehingga, generasi milenial ini mampu mempelajari tren pasar ekonomi di Indonesia.  “Makanya, kami melibatkan praktisi atau tenaga mentor dari pelaku bisnis e-commers, seperti JD.ID, Go-jekdan Alfamart, Blue Bird dan lainnya. Kita lihat memang semua lini bisnis akan mengkoneksi bisnisnya ke digital,” ucap dia. 

Sebagai bahan ajar, dalam menempuh studi tersebut, prodi Bisnis Digital dibagi menjadi dua peminatan yang akan ditempuh pada semester empat. Yakni, Digital Business Management dan Digital Technology. 

"Mulai dari manajemen, ekonomi, IT, peluang usaha, sampai startupdiajarkan secara bertahap selama empat tahun," ujar Kandi. 

Hal tersebut sudah sesuai dengan kajian kurikulum ketiga kampus besar dunia yang bergerak di bidang bisnis digital. Seperti Macquarie University dan Southern Cross University di Australia, serta Humb Collage di Kanada.

“Kita melakukan penyusunan kurikulum dengan cara desk comparison dengan tiga universitas yang beberapa di antaranya dari Australia. Tapi tidak kita mentah-mentah kita tiru, kita hanya mencontoh agar ada warna Indonesiannya,” ucap dia.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id