Minyak Sawit Potensial Jadi Sumber Energi Alternatif
Menristekdikti, Mohamad Nasir, Medcom.id/Husen Miftahudin.
Jakarta:  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah mengembangkan sumber energi berbahan dasar katalis minyak sawit.  Sumber energi alternatif ini, untuk mengurangi ketergantungan Indonesia yang hampir mengimpor 400 ribu barel minyak setiap tahunnya.

Ketergantungan terhadap energi berbahan dasar fosil di Indonesia, angkanya masih cukup tinggi. Padahal pasokan sumber daya fosil ini terbatas dan akhirnya memaksa pemerintah terus mengimpor.  


“Kita akan produksi bahan bakar, dalam hal ini menggunakan katalis dari palm oil (sawit),”kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, di Jakarta, Rabu 31 Oktober 2018.

Kemenristekdikti bekerja sama dengan Pertamina, untuk memproduksi energi terbarukan ini. Pertamina Cilacap dan Pertamina Dumai dipilih dalam jangka pendek untuk berkonsentrasi pada produksi gasolin dan diesel.

Katalis ini nantinya akan menghasilkan bensin, solar (diesel) dan avtur. Di mana minyak dari kelapa sawit  ini  menghasilkan gasolin yang lebih baik dibandingkan fosil. Ia mencontohkan fosil yang biasanya hanya 92 sampai 98 oktan fosil (di Pertamax) sedangkan gasolin menghasilkan 110 oktan.

“Tapi ini dengan menggunakan katalis bisa menghasilkan palm 110. Jauh lebih baik,” ujar Mantan rektor terpilih Universitas Dponegoro (Undip) Semarang ini.

Baca: Selama 13 Bulan Terakhir, Impor Migas Capai Level Tertinggi

Pun dengan solar yang jauh berbeda dengan dari fosil. Diesel fosil menghasilkan 40 hingga 47.
“Diesel katalis ini sampai 60. Sehingga pembakarannya sempurna,” terangnya.

Sementara itu untuk Avtur, fosil memiliki tingkat beku minus dari 37 hingga maksimal 47. Avtur dari katalis bisa mencapai minus 60.

Menteri Nasir dalam hal ini berharap agar hasil riset katalis ITB ini segera bisa digunakan di Indonesia. “Kalau bisa full dari kelapa sawit ini. Saya yakin kita akan berhenti impor,"pungkasnya.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id