LPTK Ditantang Cetak Lulusan Berdaya Saing Global
Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-54 Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Foto: Humas UNJ
Jakarta:Indonesia harus bersiap menghadapi era disrupsi teknologi atau era revolusi industri 4.0.  Menjawab tantangan itu, tuntutan terhadap Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) juga semakin tinggi, agar mencetak tenaga pendidik yang cakap, dinamis, dan berdaya saing global

Menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0 diperlukan keberadaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. SDM berkualitas tak terlepas dari tenaga pendidik yang berkualitas juga dan mampu menghasilkan generasi unggul yang kompetitif.


Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terus berupaya merevitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai lembaga pencetak tenaga pendidik agar meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Hal itu disampaikan Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenristekdikti Jamal Wiwoho dalam sambutannya mewakili Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) pada Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-54 Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta.

Faktanya cukup miris, kualitas lulusan pendidikan di Indonesia terbilang masih rendah. Indikasinya, baru sekitar 12,8 persen tenaga kerja lulusan perguruan tinggi yang terserap di pasar kerja.

Meski pengembangan LPTK sudah cukup baik, yakni mencapai 17 persen. Namun diakui Jamal belum semuanya memenuhi standar nasional.  Ia mengapresiasi  sivitas akademika UNJ dalam mengembangkan akademik dan mendidik para mahasiswanya.

"UNJ sebagai salah satu LPTK yang telah memenuhi standar nasional, diharapkan dapat memberikan kontribusi dan semangat inovasi dalam mengembangkan kampus unggul dan siap menghadapi berbagai tantangan global," ujarnya.

Di kesempatan yang sama Pelaksana tugas (Plt.) Rektor UNJ, Intan Ahmad dalam  menyampaikan sejak perubahan status IKIP Jakarta menjadi Universitas Negeri Jakarta pada tahun 1999, UNJ tidak hanya telah menghasilkan sarjana di bidang kependidikan, tetapi juga menghasilkan sarjana di bidang non kependidikan.

“Peran serta lulusan UNJ mencakup bidang yang lebih luas dalam berbagai aspek pembangunan bangsa. Tantangan berat bagi UNJ adalah bagaimana mempersiapkan lulusan UNJ yang dapat bersaing dan berkompetisi di tataran global, khususnya menghadapi tantangan revolusi industri 4.0,” ucapnya.

Demi mendukung revolusi industri 4.0 UNJ bekerjasama dalam bidang akademik yaitu kerja sama penelitian, pertukaran dan pembinaan dosen, pertukaran mahasiswa.

UNJ juga berperan serta dalam mengatasi permasalahan pendidikan di daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T), yaitu dengan ikut serta menyelenggarakan program sarjana mendidik di daerah 3T (SM-3T).

Program SM-3T adalah salah satu program pengabdian para sarjana pendidikan untuk berpatisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3 T selama satu tahun.   "Program ini juga sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan program PPG (Pendidikan Profesi Guru)," tutur Intan.

 



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id