Komisioner bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti. Foto: Dok. KPAI
Komisioner bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti. Foto: Dok. KPAI

Siswi Bunuh Diri di Gowa, KPAI Bakal Bersurat ke Kemendikbud

Pendidikan bunuh diri perlindungan anak Pembelajaran Daring
Citra Larasati • 22 Oktober 2020 15:09
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan pernyataan Fitri Ari Utami, Kepala Cabang Wilata 2 Makassar dan Gowa Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan. Kedua belah pihak menyampaikan bahwa hasil penyelidikan sementara yang dilakukan menemukan adanya dugaan motif asmara terkait penyebab MI menenggak racun serangga.
 
Untuk itu, KPAI akan bersurat kepada Inspektorat Kemendikbud untuk berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan agar mengawal kasus ini.
 
"Jika motif utama anak korban bunuh diri karena beratnya penugasan selama PJJ, dan pelaksanaan PJJ tidak sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, maka Kemdikbud perlu melakukan sosialisasi SE 15/2020 tersebut secara massif,"Komisioner bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti, Kamis, 22 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hasil penyelidikan sementara ini seakan mematahkan dugaan siswi meninggal karena depresi terlalu banyak beban tugas saat mengikuti pembelajaran jarak jauh secara daring. Menurut Retno, pernyataan motif bunuh diri MI bukan karena tugas-tugas daring dan kendala PJJ daring, melainkan motif asmara haruslah dibuktikan.
 
"Kewenangan Disdik Sumsel untuk memeriksa apakah PJJ daring di sekolah ananda MI sudah sesuai ketentuan atau tidak," kata Retno.
 
Baca juga:Komisi X Kritisi Buruknya Komunikasi Publik Kemendikbud
 
Disdik Sulsel, kata Retno, harus memeriksa seperti apa tugas yang menurut guru ringan, padahal menurut para siswanya merasa terlalu berat. Suara siswa juga harus didengarkan agar berimbang, tidak hanya mendengarkan versi pihak sekolah dan para guru saja.
 
Artinya, harus hati-hati dan penuh pertimbangan ketika menyimpulkan suatu perkara. “Menarik kesimpulan tanpa melakukan pemeriksaan menyeluruh yang melibatkan banyak pihak, ibaratnya melakukan pembelaan diri tetapi menggunakan opini dan perasaan. Padahal perasaan ukurannya tidak jelas, rujukannya bukan perasaan, tetapi aturan perundangan terkait,” imbuh Retno.
 
Apalagi Kepolisian sendiri sedang berproses mengungkapkan motif bunuh diri ananda MI. Retno berharap semua pihak menghormati pihak kepolisian yang sedang bekerja.
 
Pernyataan kepolisian bahwa dugaan sementara adalah karena beban tugas dari PJJ berdasarkan bukti-bukti percakapan di aplikasi pesan singkat korban dengan dua teman dekatnya. Seluruh saksi akan diperiksa, dan untuk saksi anak harus diperlakukan sesuai amanat UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).
 
"Jadi seharusnya kita tidak mendahului kepolisian dalam menyimpulkan motif bunuh diri ananda MI," terang mantan Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta ini.
 
Motif seorang anak bunuh diri, kemungkinan besar penyebabnya bisa tidak tunggal. Artinya membuka peluang ada motif lain, namun demikian jika ada bukti kuat yang lain, sebaiknya disampaikan saja langsung kepada penyidik polisi agar bisa ditindaklanjuti dalam proses penyelidikan kasus kematian siswi tersebut.
 
Untuk itu, KPAI juga akan bersurat resmi untuk menyampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan untuk melakukan kewenangannya memeriksa Kepala Sekolah dan para guru yang mengajar ananda MI di salah satu SMA negeri di kabupaten Gowa. Pemeriksaan atau BAP dapat didasarkan pada Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.
 
Dalam surat edaran ini disebutkan bahwa tujuan dari pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat covid-19.
 
Selain itu melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk covid-19, mencegah penyebaran dan penularan covid-19 di satuan pendidikan dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif