Rektor IPB Arif Satria menyampaikan orasi ilmiah saat Sidang Terbuka Pengukuhan Guru Besar IPB. Foto: Antara/Arif Firmansyah.
Rektor IPB Arif Satria menyampaikan orasi ilmiah saat Sidang Terbuka Pengukuhan Guru Besar IPB. Foto: Antara/Arif Firmansyah.

Pengukuhan Profesor, Arif Satria Soroti Persoalan Lingkungan Terkini

Pendidikan Pendidikan Tinggi Guru Besar
Ihfa Firdausya • 11 Januari 2020 19:27
Bogor: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia. Dalam orasi ilmiahnya, Arif menyampaikan tema "Modernisasi Ekologi dan Ekologi Politik: Perspektif Baru Analisis Tata Kelola Sumber Daya Alam".
 
Selama ini, Arif memang dikenal memiliki fokus pada bidang tata kelola sumber daya alam. Masih dalam orasi ilmiahnya, ia bahkan memberi perhatian pada kerusakan sumber daya alam dan lingkungan.
 
Menurut Arif, kerusakan alam dan lingkungan terjadi akibat kesalahan tata kelola pada sumber daya alam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Perubahan tata kelola sumber daya alam sudah menjadi keniscayaan dan harus segera saya sumbangkan kepada pemerintah bagaimana cara menyikapi masalah-masalah lingkungan yang ada sekarang ini," ujar Arif di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 11 Januari 2020.
 
Arif Satria lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 17 September 1971 dari pasangan Faruk Hasan dan Sri Utami. Sejak remaja, Arif telah menunjukkan potensinya di bidang pendidikan.
 
Dia pernah meraih predikat Siswa Teladan 1 se-Pekalongan baik saat SMP (1986) maupun SMA (1989). Pada 1990, Arif diterima di IPB pada Program Studi Penyuluhan Pertanian Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian dan lulus tahun 1995.
 
Dia juga aktif di berbagai organisasi kampus, seperti menjadi Wakil Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian (1992) dan Sekretaris Umum Organisasi Mahasiswa Angkatan 27 TPB IPB.
 
Pada 1999, Arif menyelesaikan S2 di Program Sosiologi Pedesaan IPB. Negeri Sakura Jepang kemudian menjadi destinasi pencarian ilmu selanjutnya ketika dia mengambil studi Bidang Marine Policy di Kagoshima University pada 2006.
 
"Saya dari dulu suka (belajar). Jadi memang belajar itu adalah sebuah tuntutan, sebuah kewajiban yang harus saya lakukan. Orang tua saya terus mengamanatkan agar mencari ilmu itu 'enggak' ada habisnya. Saya juga akan terapkan ke yang lain-lain, bagaimana membangun semangat belajar sampai kapan pun," tuturnya.
 
Baginya, raihan gelar profesor adalah awal perjalanan baru. Gelar ini akan mendorongnya lebih produktif dan mengembangkan ilmu yang dia geluti.
 
"Dengan demikian, semakin banyak saya baca, semakin saya tahu wilayah-wilayah yang saya tidak tahu. Mestinya saya semakin harus rendah hati, karena ilmu itu ada di mana-mana yang harus terus dikejar dan dikejar," katanya.
 
Segala pencapaian itu tak terlepas dari dukungan keluarga, istri dan kedua anaknya. "Keluarga itulah yang menjadi inspirasi saya, pendorong semangat saya, dan tentu karena keluarga lah saya punya tekad yang lebih kuat lagi untuk bisa membangun sebuah konsep dan juga memberikan kontribusi pada perubahan yang ada. Khususnya perubahan tata kelola sumber daya alam," imbuh Arif.
 

(HUS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif