Menurut Eko, tuntutan untuk menjadi universitas kelas dunia atau World Class University membuat sivitas akademika lebih fokus mengejar capaian akademik. Sehingga pembentukan karakter dan nilai-nilai integritas menjadi terpinggirkan.
"Universitas ini sekarang orientasi kinerjanya pada publikasi, jadi bukan pada pembentukan nilai dan karakter. Ini yang menjadi sebab masalah," kata Eko dalam Konferensi pers Amicus Curiae untuk UI di UI Salemba, Kamis 4 Juni 2026.
Ia menyebut sekitar 90 persen indikator kinerja perguruan tinggi saat ini berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan publikasi ilmiah. Akibatnya, proses pendidikan lebih menekankan transfer pengetahuan dibanding perubahan perilaku.
"Transfer of knowledge-nya lebih besar daripada change of behavior," ujarnya.
| Baca juga: Kasus KSBE di FHUI, UI Resmi Jatuhkan Sanksi kepada 15 Mahasiswa Pelaku |
Menurut Eko, kondisi tersebut membuat pendidikan berbasis nilai integitas semakin terpinggirkan. Krisis pendidikan berbasis nilai integritas itu tak hanya terjadi di perguruan tinggi, tapi juga pendidikan dasar dan menengah.
"Semua sivitas akademika fokus pada hasil riset dan publikasi, bukan pada perubahan perilaku, karakter, mental model, dan nilai-nilai dasar mahasiswa," imbuh Eko.
Pernyataan itu disampaikan di tengah sorotan publik terhadap sejumlah kasus pelanggaran etik akademik yang ditangani UI. Termasuk kasus disertasi Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.
Menurut Eko, kasus yang muncul ke publik hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya terjadi di lingkungan kampus. Ia mengungkapkan Dewan Guru Besar UI saat ini juga menangani berbagai dugaan pelanggaran lain, termasuk pemalsuan dokumen akademik oleh mahasiswa di sejumlah fakultas.
"Kasusnya banyak, terjadi hampir di semua fakultas. Jadi yang muncul ini bagian dari gunung es," ungkapnya.
Eko bahkan menyebut fenomena tersebut sebagai bagian dari perubahan budaya sosial yang mendorong masyarakat mencari jalan pintas untuk meraih tujuan secara cepat. "Budaya ingin cepat, tidak mau kerja keras, dan itu menjadi karakter pada saat ini," katanya.
Karena itu, DGB UI mendorong penguatan pendidikan berbasis nilai dan integritas di lingkungan kampus. Menurut Eko, perguruan tinggi perlu menyeimbangkan target kinerja akademik dengan pembentukan karakter agar pelanggaran etik tidak terus berulang.
Ia kembali menegaskan tugas universitas tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Tetapi juga membangun budaya akademik yang menjunjung moralitas, etika, dan integritas.
"Kita harus reflektif bahwa pendidikan tidak hanya menyangkut kinerja akademik dalam konteks publikasi dan riset, tetapi juga seberapa jauh kita bisa meletakkan dasar perubahan nilai, perilaku, dan budaya kepada mahasiswa dan sivitas akademika," tuturnya.
| Baca juga: Afi Kalla 'Spill' Tips Jadi Pengusaha Sukses di Hadapan Mahasiswa UI |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News