Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Generasi Muda Kian Berjarak dengan PUEBI dan KBBI

Pendidikan Sumpah Pemuda Bahasa Indonesia
Citra Larasati • 28 Oktober 2021 14:14
Jakarta: Peringatan Sumpah Pemuda bertepatan dengan bulan bahasa dan sastra yang diperingati pada bulan Oktober setiap tahunnya. Keduanya menjadi momentum untuk merevitalisasi eksistensi dan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama di kalangan generasi muda.
 
Ahli linguistik forensik, Niknik Kuntarto mengatakan, revitalisasi kaidah berbahasa Indonesia ini penting, mengingat saat ini generasi muda semakin berjarak dengan keberadaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang dapat menjadi panduan dalam menjaga tata bahasa Indonesia. Pun dalam menjaga kebakuan bahasa Indonesia melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), para pemuda di era kekinian ini dinilai masih lemah. 
 
"Permasalahannya berulangnya kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan penelitian saya adalah karena mereka malas membuka KBBI dan PUEBI. Berarti dibutuhkan usaha cerdas, agar kalangan muda lebih mengenal dan ramah KBBI dan PUEBI," ujar Niknik kepada Medcom.id, Kamis 28 Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Padahal untuk menjaga eksisitensi bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan cara merawat hati agar senantiasa mengenal, mencintai, dan membanggakan bahasa Indonesia di ruang hati para pemuda. Hal itu bisa dimulai dari keluarga, sekolah, dan pemerintah.
 
Baca juga: Nadiem Yakin Indonesia Jadi Negara Besar di Tangan Pemuda
 
Akademisi dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini menyebut, ada hal lain yang bisa mendukung eksistensi bahasa Indonesia. Salah satunya munculnya rambu-rambu di fasilitas umum yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
 
"Terkadang ironis ketika berkunjung ke pusat perbelanjaan atau mal, begitu banyak nama-nama restoran dengan menggunakan bahasa asing.  Apalagi ketika kita melihat nama-nama perumahan yang lebih memilih nama asing, mungkin agar lebih berasa tinggal di luar negeri. Bahkan, nama tempat wisata juga ikut-ikutan menggunakan istilah asing," tuturtnya.
 
Bahkan, belakangan muncul fenomena "memindahkan" wisata luar negeri ke Indonesia yang membuat bahasa Indonesia kian terpuruk. Ironis, yang terjadi  justru generasi muda maupun masyarakat umumnya kerap berbinar ketika melihat sesuatu yang berbau asing. 
 
"Sesuatu yang berbau asing saelalu dianggap plafon dan kita menjadi lantai yang selalu ingin naik ke plafon setara dengan orang asing. Ketika ada orang asing yang datang ke Indonesia, kita sibuk belajar bahasa mereka. Ini keliru. Mereka yang harus belajar bahasa Indonesia sesuai peribahasa, 'Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,' ujar Ketua Yayasan Kampung Bahasa Bloombank ini.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif