Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Rektor ITS: Karya Monumental Layak Disetarakan Publikasi Internasional

Pendidikan Pendidikan Tinggi Publikasi Ilmiah Guru Besar
Ilham Pratama Putra • 21 Oktober 2020 14:01
Jakarta: Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mochamad Ashari meminta Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dapat mengesahkan karya monumental sebagai alternatif penilaian selain publikasi ilmiah untuk menjadi guru besar. Menurutnya karya monumental itu layak disetarakan dengan publikasi internasional terakreditasi.
 
"Dari rubrik kepangkatan, sebenarnya inovasi teknologi, karya seni sudah ada. Nilainya memang cukup tinggi setara publikasi internasional. Ini yang dari dahulu belum pernah terwujud dari Dikti," kata Ashari kepada Medcom.id, Rabu, 21 Oktober 2020.
 
Dia menyayangkan jika karya utama untuk pengajuan guru besar saat ini hanya menggunakan satu syarat. Yakni menerbitkan karya di jurnal internasional bereputasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk itu, dia sepakat jika karya monumental dijadikan opsional. Dosen bisa lebih fleksibel dalam mengajukan karya mereka untuk meraih guru besar.
 
"Saya sangat sepakat jika karya utama dibuat opsional atau boleh dipilih antara, publikasi ilmiah bereputasi, inovasi setara publikasi bereputasi dan karya seni yang setara publikasi bereputasi," jelas Ashari.
 
Baca juga:2021, Syarat Jadi Guru Besar Lebih Fleksibel
 
Tinggal bagaimana Kemendikbud menyediakan asesmen untuk karya-karya tersebut. Harus pula dibuat aturan yang jelas untuk itu.
 
"Harus ada asesmen, harus dibuat detail aturan dan definisinya. Dibentuk timnya. Perlu ada pedoman penyetaraannya. Kemudian pedoman tersebut digunakan oleh tim Penilaian Angka Kredit (PAK) kenaikan jabatan universitas, maupun Dikti," sambung dia.
 
Terlebih, dosen-dosen yang membidangi seni dan desain. Fleksibilitas ini akan mempermudah mereka dalam meraih guru besar.
 
"Untuk dosen-dosen kelompok desain, seperti DKV (Desain Komunikasi Visual), Desain produk dan lain-lain kan nature-nya menghasilkan karya seni, bukan Scopus. Karya mereka yang bisa masuk di pameran galeri Paris, itu setara dengan jurnal internasional bereputasi tinggi (Q1)," terangnya.
 
Sebelumnya, Kemendikbud akan menerapkan kebijakan fleksibilitas dalam penilaian guru besar di perguruan tinggi yang rencananya diterapkan mulai 2021. Fleksibilitas dalam penilaian dan persyaratan guru besar ini merupakan bagian dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
 
"Mudah-mudahan di 2021 akan ada kebijakan yang lebih fleksibel. Ke depan penciptaan profesor baru, ujian guru besar lebih fleksibel," kata Direktur Sumber Daya Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Mohammad Sofwan Effendi saat pengukuhan Dekan Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara (Untar), Amad Sudiro sebagai Guru Besar.
 
Fleksibilitas dalam mengajukan guru besar ini terkait syarat khusus yang selama ini harus dipenuhi calon profesor, yakni syarat publikasi ilmiah yang dapat diganti dengan karya monumental lain. "Manfaatkan fleksibilitas ini untuk menempuh gelar akademik guru besar," kata Sofwan.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif