Foto: Unpad/Dok. Humas
Foto: Unpad/Dok. Humas

Digitalisasi, Upaya Selamatkan Kebudayaan Sunda

Pendidikan kebudayaan Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 14 November 2019 16:36
Jakarta: Sebagai upaya penyelamatan kekayaan budaya Sunda, Universitas Padjadjaran (Unpad) kini memiliki lembaga yang khusus melakukan inventarisasi kekayaan budaya tulis, audio, dan visual milik masyarakat Sunda.
 
Selain itu, Unpad juga memiliki lembaga bernama “Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda”. Nantinya lembaga ini akan mengolah hasil budaya menjadi bentuk digital.
 
Inisiasi dari inventarisasi khazanah kebudayaan Sunda ini muncul dari Rektor ke-10 Ganjar Kurnia. Terhitung sejak 2013, Ganjar bersama tim mulai mengumpulkan berbagai karya tulis seperti buku dan media berbahasa Sunda, hingga berbagai arsip gambar dan rekaman suara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“(Arsip budaya) ini diperkirakan akan rusak atau hilang. Banyak yang masih menyimpan tetapi kondisinya sudah tidak baik. Inilah yang menyebabkan kami melakukan digitalisasi,” ujar Ganjar dalam siaran pers Unpad, Bandung, Kamis 14 November 2019.
 
Berdasarkan hasil penelusuran, tercatat sekitar 100 jenis media berbahasa Sunda pernah terbit di Jawa Barat. Ada pula media berbahasa asing yang mengupas tentang kebudayaan Sunda.
 
Selain itu, puluhan ribu buku berbahasa Sunda atau tentang Sunda, ribuan arsip gambar, rekaman suara, hingga dokumen penting pernah beredar dan menjadi koleksi pribadi. Temuan ini, lanjut Ganjar, harus diselamatkan.
 
Setidaknya, upaya ini menjadi salah satu jejak warisan para leluhur Sunda yang diharapkan masih bisa dirasakan di masa depan. “Kalau kita tidak selamatkan, maka kita akan kehilangan satu jejak peradaban,” tegasnya.
 
Upaya digitalisasi dilakukan dengan cara melakukan pemindaian dan konverter. Berbagai karya media cetak telah dilakukan pemindaian menjadi format digital yang akan disimpan di pusat data.
 
"Begitu pula rekaman suara yang berasal dari pita maupun piringan hitam, dikonversi secara sederhana sehingga menjadi berformat digital. Seluruh data digital ini disimpan dalam satu pusat data," jelasnya.
 
Ada tiga peran penting dari digitalisasi arsip budaya Sunda ini. Tiga peran penting tersebut antara lain mampu membangun peradaban dengan berpijak pada kebudayaan, penyedia kronologi kebudayaan, serta menumbuhkan masyarakat yang melek literasi.
 
Nantinya, data digital kebudayaan Sunda ini bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat melalui situs khusus. Saat ini, Ganjar dan tim tengah mengembangkan situs khusus untuk menampilkan data tersebut.
 
"Diharapkan, ke depannya pusat ini bisa menjadi museum digital milik Unpad," ujarnya.
 
Adapun tim yang tergabung dalam Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad tersebut, yaitu Tedi Muhtadin, Abdul Hamid, Gani Ahmad Jaelani.
 
Rektor Unpad, Rina Indiastuti mengatakan, melalui pusat digitalisasi ini, fakta sejarah masa lalu dirunut secara baik dengan menggunakan teknologi digital. Menurutnya ini efektif untuk generasi muda.
 
Dengan media digital, generasi muda diharapkan mengenal lebih dekat berbagai khazanah kebudayaan Sunda yang mungkin secara fisik sudah susah dicari dan ditemukan.
 

“Ini adalah bagian dari aset Unpad dan harus dilestarikan kapanpun. Rasanya kita perlu mengumandangkan nilai-nilai dari sejarah yang baik ke internasional,” imbuhnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif