Seorang peniliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuat obat tradisional dari berbagai jenis tumbuhan dan buah-buahan di Laboratorium khusus Pembuatan Obat Tradisional di Puspiptek Serpong, ANT/Muhammad Iqbal.
Seorang peniliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuat obat tradisional dari berbagai jenis tumbuhan dan buah-buahan di Laboratorium khusus Pembuatan Obat Tradisional di Puspiptek Serpong, ANT/Muhammad Iqbal.

Pemerintah Genjot Kerja Sama dengan Peneliti Asing

Pendidikan Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 13 Mei 2019 14:05
Jakarta: Pemerintah Indonesia terus meningkatkan kerja sama penelitian dengan lembaga penelitian asing. Terutama penelitian di bidang kesehatan dan obat-obatan.
 
"Terus kami kembangkan (kerja sama riset denganpeneliti asing), kalau bisa semakin banyak. Kalau enggak kita enggak bisa tumbuh. Bio diversity (keanekaragaman hayati) kita besar loh," kata Menristekdikti, Mohamad Nasir, di Jakarta, Senin, 13 Mei 2019.
 
Kerja sama dengan peneliti asing juga, kata Nasir, memiliki banyak keuntungan. Di antaranya dari sisi pembiayaan riset. Mengingat pada sejumlah kerja sama riset dengan peneliti asing yang pernah berjalan, biasanya sebagian besar pembiayaan riset ditanggung oleh pihak peneliti asing.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mereka kan berada di kita, malah ada yang free, mereka yang membiayai semua," terang Nasir.
 
Ia mencontohkan pada penelitian tentang Laut Dalam di Laut Jawa, seluruh dana penelitiannya ditanggung Pemerintah Singapura. "Kita hanya menyiapkan kapal saja, Baruna Jaya. Itu meneliti bio diversity kita di kedalaman 3.000-7.000 meter di bawah permukaan laut ada apa saja," sebut Nasir.
 
Baca: Penelitian Kedokteran Dituntut Manfaatkan Era 4.0
 
Sejumlah kolaborasi riset dengan peneliti asing ini akan diprioritaskan pada sejumlah bidang, terutama kesehatan. Salah satu penelitian bidang kesehatan yang akan dilakukan dengan Inggris.
 
"Kesehatan kita tuh problem loh. Bayangkan, 82 persen obat kita bahan bakunya masih dari impor. Bagaimana obat bisa dipenuhi dalam negeri, maka bagaimana biaya kesehatan kita akan murah," kata Nasir.
 
Menurut Nasir, saat ini biaya kesehatan dan pengobatan di dalam negeri sangat mahal. Bahkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, kata Nasir, juga kewalahan membiayai, sehingga akibatnya terjadi defisit terus menerus.
 
"Jumlah yang dilayani sangat besar. Kalau obat-obatan yang rutin bisa kita produksi di dalam negeri kan (persoalan) kita selesai. Sekarang problemnya obat itu diimpor, ini yang jadi masalah. Produksinya sudah di dalam negeri, tapi bahannya dari luar negeri," terangnya.
 
Tidak hanya dengan Inggris, penelitian di bidang kesehatan dan obat-obatan juga tengah dijalani dengan Amerika Serikat. "Dengan Amerika itu bidang IT juga banyak, dengan Tiongkok kita lihat di kereta cepat mulai bergeser ke Tiongkok, karena kita lihat Tiongkok juga lebih efisien," terang mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.
 
Secara umum, berkolaborasi riset dengan berbagai negara sangat penting. "Ini juga dengan Inggris mudah-mudahan ada hasil nyata. Bagaimana pengobatan dengan penyakit menular seperti TBC dan Malaria harusnya sudah bisa berhenti," paparnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif